Nilai Tukar Rupiah Melemah, Harga Pangan Berpotensi Naik
- Istimewa
YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh kisaran Rp17.000 per dolar AS pada pertengahan Maret 2026 kembali menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas harga pangan di dalam negeri. Kondisi ini menunjukkan betapa eratnya hubungan antara gejolak ekonomi global dengan ketahanan pangan nasional. Indonesia masih bergantung pada impor sejumlah komoditas strategis seperti kedelai, gandum, dan bawang putih. Ketika kurs rupiah melemah, biaya impor meningkat dan pada akhirnya berpotensi mendorong kenaikan harga pangan di tingkat konsumen.
Dosen Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr Hani Perwitasari, menilai situasi ini perlu dicermati secara serius. Menurutnya, fluktuasi nilai tukar memiliki dampak bervariasi terhadap harga pangan, bergantung pada jenis komoditas serta kondisi ketersediaan di dalam negeri. Komoditas dengan pasokan cukup cenderung lebih stabil, sementara keterbatasan pasokan dapat memperbesar potensi kenaikan harga. “Fluktuasi nilai tukar ini bisa berpengaruh terhadap stabilitas harga pangan, bervariasi antara 2 sampai 8 persen tergantung jenis makanannya,” jelas Hani, pekan lalu.
Kerentanan terhadap pelemahan rupiah juga berbeda antar komoditas. Produk yang sulit disubstitusi dan memiliki ketergantungan tinggi pada pasokan tertentu lebih sensitif terhadap perubahan kurs. Daging, telur, dan susu disebut sebagai contoh komoditas yang paling rentan. Tekanan biaya impor maupun input produksi dapat lebih cepat diteruskan ke harga jual, sehingga masyarakat merasakan langsung dampaknya melalui kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.
Ketergantungan pada impor menjadi salah satu faktor utama yang membuat sistem pangan nasional rentan terhadap gejolak eksternal. Ketika produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan, impor menjadi pilihan untuk menjaga pasokan. Namun, semakin besar porsi impor, semakin tinggi pula risiko tekanan terhadap harga domestik. “Semakin tinggi impornya, maka ini akan sangat rentan terhadap gejolak kurs yang ada,” tambah Hani.
Selain memengaruhi harga pangan, pelemahan rupiah juga berdampak pada biaya produksi di sektor pertanian dan peternakan. Sejumlah input produksi seperti pakan ternak, pupuk, dan benih masih terkait dengan pasar global sehingga sensitif terhadap perubahan kurs. Kenaikan biaya input akan meningkatkan total biaya produksi yang harus ditanggung pelaku usaha, dan pada akhirnya mendorong penyesuaian harga di tingkat produsen hingga konsumen. “Nilai tukar akan mempengaruhi biaya produksi, terutama ketika barang-barang produksi ini merupakan barang tradable, sehingga harganya naik dan total biayanya meningkat,” ungkapnya.