Awan Panas Guguran Gunung Merapi, BPPTKG Imbau Warga Waspada
- BPPTKG Yogyakarta
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Aktivitas vulkanik Gunung Merapi kembali meningkat pada Sabtu (28/03/2026) dengan terjadinya beberapa kali awan panas guguran yang terpantau mengarah ke sektor barat daya. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan bahwa pada pukul 20.14 WIB terjadi awan panas dengan estimasi jarak luncur sejauh 1.000 meter, amplitudo maksimum 30 mm, dan durasi 103,67 detik. Guguran tersebut mengarah ke hulu Kali Krasak.
Sebelumnya, pada pukul 18.40 WIB, awan panas guguran tercatat meluncur sejauh 1.400 meter dengan amplitudo maksimum 50 mm dan durasi 122,64 detik. Guguran ini mengarah ke barat daya, tepatnya ke hulu Kali Boyong dan Kali Krasak. Sementara itu, pada pukul 17.40 WIB, awan panas dengan jarak luncur 1.000 meter, amplitudo maksimum 43,95 mm, dan durasi 133,69 detik juga terpantau mengarah ke hulu Kali Boyong.
Dalam periode pengamatan antara pukul 12.00 hingga 18.00 WIB, kondisi meteorologi di sekitar Merapi menunjukkan cuaca mendung disertai hujan. Angin bertiup lemah ke arah timur dan selatan, dengan suhu udara berkisar antara 18,7 hingga 20,5 derajat Celsius. Kelembaban udara sangat tinggi, mencapai 98–99,6 persen, sementara tekanan udara tercatat antara 871,6 hingga 915 mmHg. Curah hujan harian mencapai 20 mm. Visual gunung menunjukkan kondisi jelas hingga kabut tipis, dengan asap kawah bertekanan lemah berwarna putih, intensitas tebal, dan tinggi mencapai 25 meter di atas puncak.
BPPTKG menetapkan tingkat aktivitas Gunung Merapi pada Level III atau Siaga. Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas di sektor selatan–barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 km. Pada sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol sejauh 5 km. Selain itu, lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius hingga 3 km dari puncak.
BPPTKG menegaskan bahwa suplai magma masih berlangsung sehingga awan panas guguran berpotensi terjadi di dalam wilayah bahaya. Masyarakat diminta untuk tidak melakukan aktivitas di daerah potensi bahaya, serta mewaspadai ancaman lahar hujan dan abu vulkanik. Hujan yang terjadi di lereng selatan Merapi pada Sabtu sore menambah risiko tersebut. Data menunjukkan hujan turun di stasiun Kaliurang mulai pukul 13.30 WIB dengan curah hujan 16 mm selama 71 menit, intensitas 14 mm/jam. Di puncak Merapi, hujan tercatat mulai pukul 12.32 WIB dengan curah hujan 24 mm, durasi lebih dari satu jam, sebelum reda pada pukul 14.08 WIB.