Inklusivitas Dunia Kerja: Kisah Difabel yang Bangkit Bersama Pabrik Rokok HS
- Istimewa
MAGELANG, VIVA Jogja - Perjalanan mencari pekerjaan bagi penyandang disabilitas kerap diwarnai diskriminasi dan penolakan. Hal ini dialami Shinta (34), warga Magelang, Jawa Tengah, yang merupakan penyandang disabilitas rungu. Ia mengaku pernah berkali-kali ditolak saat melamar kerja, bahkan sering dianggap tidak mampu hanya karena berbeda. Kenangan pahit itu masih membekas, terutama ketika ia harus pulang dengan kecewa setelah wawancara.
Namun, nasib Shinta berubah ketika diterima bekerja di Pabrik Rokok HS milik Muhammad Suryo. Tanpa syarat khusus, ia langsung diterima bekerja dan merasakan lingkungan yang inklusif. “Di sini kami dihormati, tidak dibedakan, dan selalu dilatih dengan sabar,” ungkap Shinta. Kehidupan ekonominya pun membaik. Hutang yang sempat menjeratnya berhasil dilunasi, bahkan kini ia mampu menabung untuk masa depan anaknya.
Sebelum bekerja di HS, Shinta sempat membuka usaha batik tulis kecil-kecilan, tetapi usaha itu tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sebagai tulang punggung keluarga, ia terpaksa berutang ke bank. Kini, dengan gaji yang utuh ditambah fasilitas makan gratis dari pabrik, Shinta merasa lebih sejahtera. Ia juga menantikan pembangunan mess khusus bagi karyawan difabel yang sedang direncanakan perusahaan.
Kisah serupa datang dari Fian (26), difabel asal Yogyakarta. Ia pernah bekerja di beberapa perusahaan, namun tidak betah karena sering dibully dan selalu disalahkan ketika terjadi kesalahan. Di HS, ia merasakan perlakuan berbeda. Semua karyawan diperlakukan sama, dihormati, dan diberi fasilitas tambahan berupa mess gratis. “Kami berharap perusahaan lain mencontoh HS. Inklusivitas dunia kerja harus dibuktikan, bukan sekadar narasi,” tegasnya.
Perhatian terhadap karyawan difabel di HS juga ditegaskan oleh Muhammad Hanafi, perwakilan HRD. Ia menyebutkan bahwa 70 karyawan difabel yang bekerja di pabrik memiliki kinerja yang baik dan semangat tinggi. “Kami selalu diingatkan oleh Pak Suryo untuk memberikan perhatian khusus bagi kawan-kawan difabel. Tidak ada yang dibedakan, semua mendapat hak yang sama,” ujarnya.
Hanafi menambahkan, fasilitas mess gratis diberikan karena banyak karyawan difabel berasal dari luar kota Magelang. Dengan adanya mess, mereka dapat bekerja lebih nyaman tanpa terbebani biaya tempat tinggal.