Gen Z Perlu Rencanakan Keuangan dan Hunian Sejak Usia Muda

Dr Dimas Bagus Wiranatakusuma, pakar ekonomi dan keuangan syariah UMY
Sumber :
  • Dok UMY

BANTUL, VIVA Jogja - Perencanaan keuangan menjadi tantangan besar bagi generasi muda di tengah biaya hidup yang terus meningkat dan pemasukan yang belum stabil. Generasi Z dinilai perlu memahami pentingnya financial planning sejak dini agar tidak terjebak dalam kondisi “besar pasak daripada tiang”.

img_title Polyworking: Strategi Bertahan dan Pilihan Karier di Tengah Dinamika Pasar Kerja Indonesia

Dimas Bagus Wiranatakusuma, Ph.D., pakar ekonomi dan keuangan syariah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), menegaskan bahwa perencanaan keuangan berarti membawa masa depan ke masa kini. “Planning is bringing the future into the present. Artinya kita memotret masa depan ke kondisi hari ini supaya kita tahu apa yang harus dilakukan sekarang,” ujarnya di Gedung AR Fachruddin A UMY, Rabu (13/05/2026).

Menurut Dimas, langkah pertama adalah memahami kondisi finansial diri melalui financial profile. Seseorang perlu mengetahui apakah dirinya berada dalam kategori sejahtera, semi sejahtera, kurang sejahtera, atau tidak sejahtera dengan membandingkan pendapatan dan pengeluaran. Kondisi ideal adalah ketika pendapatan lebih tinggi daripada biaya hidup sehingga masih ada ruang untuk menabung, berinvestasi, dan membangun dana darurat. Sebaliknya, kondisi paling berbahaya terjadi ketika biaya hidup justru lebih besar dibanding pemasukan. “Kalau cost lebih tinggi daripada income, tingkat kemakmuran kita akan menurun. Makanya penting membedakan antara kebutuhan dan keinginan,” jelasnya.

img_title Batas MBR Naik, Akademisi UMY Soroti Pentingnya Melihat Kesejahteraan Secara Menyeluruh

Ia menekankan pentingnya financial check sebagai kontrol kesehatan keuangan. Generasi muda disarankan membagi pemasukan ke dalam tiga pos utama: living untuk kebutuhan sehari-hari, saving untuk tabungan dan investasi, serta refreshing yang bersifat opsional. Selain itu, pengeluaran perlu dikontrol dengan rasio keuangan tertentu, termasuk proporsi tabungan, investasi, dana darurat, hingga batas aman utang. Standar ideal utang maksimal berada di bawah 50 persen dari total pendapatan. “Kalau income kita sudah dibagi-bagi berdasarkan posnya, berarti kita sudah punya desain keuangan. Jadi bukan hidup by accident, tapi by design,” katanya.

Dimas juga menilai generasi Z perlu memahami konsep time value of money, yakni nilai uang hari ini lebih berharga dibanding masa depan karena adanya inflasi. Pemahaman ini penting agar anak muda tidak hanya fokus menghabiskan uang untuk gaya hidup sesaat, tetapi juga mulai memikirkan aset jangka panjang. “Yang paling penting itu kontrol diri dan tujuan hidup. Uang itu harus punya nilai manfaat, bukan hanya habis untuk hal-hal impulsif,” pungkasnya.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Gen Z Kulonprogo Diajak Warisi Pemikiran Bung Karno Lewat Sarasehan PDI Perjuangan