BPBD Sleman Waspadai 'Silent Hazard', Ancaman Senyap yang Sulit Terdeteksi
- ist
SLEMAN, VIVA Jogja – Ancaman bencana di Sleman ternyata tidak selalu tampak di permukaan.
BPBD Sleman kini mewaspadai kemunculan silent hazard atau ancaman senyap.
Fenomena tersebut dinilai perlu masuk dalam pemetaan risiko kebencanaan.
Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, mengatakan paradigma penanggulangan bencana harus berubah.
Penanganan tidak boleh lagi menunggu bencana terjadi.
Mitigasi harus dilakukan sebelum ancaman berubah menjadi bencana.
"Paradigma sekarang harus preventif dan proaktif," katanya, Jumat 19 Juni 2026.
"Risiko harus dikurangi sebelum menjadi bencana."
"Kalau sudah terjadi, penanganannya lebih sulit."
"Anggaran yang dibutuhkan juga jauh lebih besar."
Karena itu, BPBD terus meningkatkan edukasi kepada masyarakat.
Kesadaran warga dinilai menjadi benteng pertama menghadapi bencana.
Bambang mengatakan setiap wilayah Sleman memiliki karakter ancaman berbeda.
Wilayah timur dipengaruhi Sesar Opak.
Wilayah utara menghadapi ancaman erupsi Merapi.
Sedangkan Sleman Barat memiliki karakteristik yang berbeda.
Di kawasan tersebut muncul ancaman yang disebut silent hazard.
"Wilayah barat punya karakteristik tersendiri," ujarnya.
"Ada ancaman yang sifatnya silent hazard."
Fenomena itu kini menjadi perhatian BPBD Sleman.
Salah satunya terjadi di Dusun Kasuran, Kapanewon Seyegan.
Di lokasi tersebut muncul dugaan gas yang memicu kebakaran berulang.
Fenomena itu masih diteliti para ahli.
Kajian melibatkan akademisi Universitas Gadjah Mada.
BPBD menunggu hasil penelitian ilmiah tersebut.
"Kalau terbukti, kenapa tidak dimasukkan ke kajian risiko kita," katanya.
"Itu bisa menjadi tambahan ancaman dalam pemetaan risiko bencana."
Selain ancaman senyap, Sleman Barat tetap menghadapi cuaca ekstrem.
Ancamannya berupa hujan deras.
Kemudian angin kencang.
Puting beliung juga masih berpotensi terjadi.
Petir menjadi ancaman lain saat musim penghujan.
Untuk memperkuat mitigasi, BPBD mengembangkan Kapanewon Tangguh Bencana.
Program tersebut memperkuat kemampuan wilayah menghadapi bencana.
Respons awal diharapkan menjadi lebih cepat.
Bambang menilai penguatan wilayah sangat penting.
Posko BPBD tidak selalu dekat dengan lokasi kejadian.
Perjalanan dari Pakem menuju Moyudan membutuhkan sekitar 40 menit.
Karena itu, relawan di tingkat wilayah harus diperkuat.
"Yang bisa ditangani segera jangan sampai berkembang," katanya.