Groundsill Srandakan Dikebut, DPRD DIY Ingatkan Pentingnya Pengawasan dan Perawatan

Groundsill Srandakan yang terletak di perbatasan Bantul-Kulonprogo memasuki tahap krusial dengan progres mencapai 77,35 persen
Sumber :
  • Istimewa

BANTUL, VIVA Jogja - Pembangunan Groundsill Srandakan yang terletak di perbatasan Kabupaten Bantul dan Kulonprogo kini memasuki tahap krusial dengan progres mencapai 77,35 persen. Proyek strategis senilai Rp213 miliar ini dirancang untuk menjaga stabilitas aliran Sungai Progo sekaligus melindungi infrastruktur vital di sekitarnya. Target penyelesaian ditetapkan pada 31 Desember 2026, dan saat ini pekerjaan difokuskan pada konstruksi utama di sisi barat sungai.

img_title DPRD DIY Dorong Percepatan Proyek Sumur Bor Selopamioro untuk Atasi Kekeringan

Dalam peninjauan lapangan yang dilakukan Komisi C DPRD DIY pada Kamis (25/06/2026), Pejabat Pembuat Komitmen Sungai dan Pantai II Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO), Dicky Maulana, menjelaskan bahwa pembangunan dimulai sejak 10 Oktober 2025. Konstruksi utama di sisi timur telah rampung, sementara pekerjaan di sisi barat masih berjalan. Groundsill baru ini dibangun di selatan bangunan lama yang rusak akibat banjir besar pada Januari 2025. Dengan panjang 300 meter, struktur baru diharapkan mampu menggantikan peran bangunan lama yang telah beroperasi hampir dua dekade sebelum akhirnya mengalami kerusakan parah.

Dicky menekankan bahwa musim kemarau menjadi momentum penting untuk mempercepat penyelesaian pekerjaan. Debit sungai yang lebih rendah memungkinkan pengerjaan konstruksi berlangsung lebih efektif. Ia menargetkan agar pekerjaan utama dapat selesai sebelum musim penghujan, sehingga akhir tahun nanti hanya menyisakan pekerjaan pendukung. Optimisme ini muncul dari kesiapan tim lapangan yang memanfaatkan kondisi alam untuk mempercepat progres.

img_title DPRD DIY Dorong Optimalisasi Kelok 23 sebagai Jalur Strategis dan Destinasi Wisata

Wakil Ketua Komisi C DPRD DIY, Amir Syarifudin, menegaskan bahwa penyelesaian proyek sesuai jadwal sangat penting mengingat Sungai Progo memiliki fungsi strategis sebagai sumber irigasi pertanian dan penyedia air baku bagi masyarakat. Ia menilai periode Juni hingga Agustus merupakan waktu yang tepat untuk mempercepat pekerjaan agar manfaat proyek segera dirasakan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan proyek ini akan berdampak langsung pada ketahanan pangan dan ketersediaan air bersih di wilayah Bantul dan Kulonprogo.

Anggota Komisi C DPRD DIY, Aslam Ridlo, menambahkan bahwa kualitas konstruksi groundsill baru jauh lebih baik dibandingkan bangunan sebelumnya. Penguatan dilakukan melalui pemasangan tiang pancang hingga kedalaman 12 meter di bawah pondasi, sehingga struktur lebih kokoh dan mampu mengantisipasi gerusan sungai. Ia berharap konstruksi ini dapat bertahan lebih lama dan menjadi solusi atas tantangan erosi yang selama ini mengancam stabilitas Sungai Progo. Namun, Aslam juga mengingatkan perlunya pengawasan terhadap aktivitas penambangan pasir di sekitar sungai. Menurutnya, kegiatan tersebut berpotensi mengganggu stabilitas bangunan yang telah dibangun dengan anggaran besar.

img_title Komisi C DPRD DIY Tinjau Lava Bantal Berbah, Dorong Infrastruktur untuk Geopark Berkelanjutan

Hal senada disampaikan Anggota DPRD DIY, Lilik Syaiful Ahmad, yang mengajak masyarakat, termasuk para penambang pasir, untuk turut menjaga keberadaan groundsill Srandakan. Ia menekankan bahwa infrastruktur ini memiliki fungsi vital dalam menjaga keamanan jembatan, sistem irigasi, serta keberlangsungan sumber daya air. Lilik menegaskan bahwa jika dirawat bersama, groundsill dapat bertahan hingga satu dekade tanpa perbaikan besar. Ia mengingatkan bahwa infrastruktur ini adalah aset bersama yang harus dijaga agar anggaran negara tidak sia-sia dan manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Dengan progres pembangunan yang telah melampaui tiga perempat pekerjaan, harapan besar kini tertuju pada penyelesaian proyek sesuai jadwal. Groundsill Srandakan diharapkan segera berfungsi optimal dalam menjaga stabilitas aliran Sungai Progo, melindungi infrastruktur di sekitarnya, serta mendukung kebutuhan irigasi dan air baku bagi masyarakat Bantul dan Kulonprogo. Sinergi antara pemerintah daerah, instansi teknis, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci agar proyek ini tidak hanya selesai tepat waktu, tetapi juga terawat dengan baik untuk keberlangsungan jangka panjang.

Tulisan ini menekankan bahwa pembangunan fisik semata tidak cukup tanpa komitmen pengawasan dan perawatan bersama. Groundsill Srandakan bukan hanya proyek infrastruktur, melainkan simbol kolaborasi antara negara dan masyarakat dalam menjaga sumber daya alam yang menjadi penopang kehidupan sehari-hari.