Strategi Baru Membangun Peradaban Islam Global

Diskusi kajian keislaman yang lebih inklusif
Sumber :
  • Humas UMY

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Fakultas Studi Islam dan Peradaban (FSIP) UMY, menggantikan nomenklatur sebelumnya yaitu Fakultas Agama Islam (FAI), menjadi tonggak penting dalam pengembangan kajian keislaman yang lebih inklusif, transformatif, dan berorientasi global.

img_title Muhammadiyah Dorong Evaluasi Ormas Berbasis Hukum dan Data

Cendekiawan Muslim Prof Dr Din Syamsuddin, yang hadir dalam peresmian dan Prof Dr Muhammad Azhar, Guru Besar Studi Islam UMY, keduanya menyampaikan pandangan strategis mengenai perubahan ini dalam diskusi ilmiah bertajuk “Meneguhkan Kontribusi Studi Islam untuk Peradaban Bangsa, Umat, dan Kemanusiaan Global.”

Dalam paparannya, Din Syamsuddin menegaskan bahwa perubahan nama dari FAI menjadi FSIP bukan sekadar pergantian istilah, melainkan strategi mendalam untuk membangun paradigma baru dalam peradaban Islam. Menurutnya, perubahan ini memiliki dasar teologis, historis, sosiologis, dan futurologis yang kuat.

img_title Inovasi Anak Panti Muhammadiyah, Madu Surya Asy-Sifa Jadi Bukti Kemandirian di Tengah Kota

“Pertanyaannya bukan sekadar tentang nama, tetapi tentang makna di baliknya. Perubahan ini adalah manifestasi dari upaya menciptakan peradaban baru umat Islam di dunia,” tegas Din.

Ia menambahkan bahwa langkah UMY sejalan dengan visi pendidikan Islam modern yang berupaya menghapus dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. FSIP diharapkan menjadi pusat integrasi keilmuan berbasis tauhid, yang mampu melahirkan ilmu pengetahuan komprehensif, lengkap, dan indah (kamil, syamil, jamil).

img_title Majelisdiktilibang PP Muhammadiyah Tantang UMUKA Pasang Target Besar: Kalau Tak Ada Target Angka, Kita Tidur

Din juga menyoroti kondisi peradaban global yang dinilai tengah mengalami disrupsi nilai akibat dominasi paham liberalistik. Menurutnya, umat Islam harus hadir sebagai pembangun counter-civilization yang lebih adil dan beradab.

“Sistem dunia sekarang penuh kekacauan dan ketidakpastian. Ini harus diubah oleh umat Islam melalui pembangunan peradaban baru,” ujarnya.

Senada dengan Din Syamsuddin, Prof Muhammad Azhar menyebut perubahan FAI menjadi FSIP sebagai langkah strategis untuk memperluas cakupan kajian dan menghapus kesan eksklusivitas.

“FAI kemarin kesannya agak eksklusif, seolah-olah hanya FAI yang Islam. FSIP lebih luas dan inklusif,” jelas Azhar.

Ia meyakini bahwa peradaban Islam kini memasuki fase kebangkitan baru setelah mengalami siklus penurunan selama tujuh abad. Tanda-tanda kebangkitan tersebut terlihat di berbagai belahan dunia, mulai dari tokoh Muslim di kancah politik global hingga inovasi keilmuan di negara-negara Asia Timur.

Halaman Selanjutnya
img_title