Bahaya “Silent Killer” Deep Vein Thrombosis

Prof Dr dr Usi Sukorini (tengah)
Sumber :
  • Dok Humas UGM

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Deep vein thrombosis (DVT), atau yang dikenal dengan emboli paru, merupakan kondisi terbentuknya bekuan darah di pembuluh vena dalam yang sering berkembang tanpa disadari. Penyakit ini kerap tidak menimbulkan gejala khas pada fase awal sehingga diagnosis terlambat dan komplikasi serius baru terungkap ketika pasien mengalami sesak napas atau emboli paru yang mengancam jiwa.

img_title 15 Tahun KUSTOMFEST: “High Octane” Pacu Kreativitas Builder Kustom Indonesia

“Emboli paru merupakan komplikasi yang sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian mendadak sehingga sering disebut silent killer,” ujar Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Prof Dr dr Usi Sukorini, dalam pidato pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar Ilmu Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium, Selasa (27/01/2026) di Balai Senat UGM.

Pakar di bidang Ilmu Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium, serta aktif menyoroti isu kesehatan trombotik seperti deep vein thrombosis (DVT) dan emboli paru ini menyampaikan pidato berjudul “Pemeriksaan Laboratorium: Kunci Mengungkap Misteri Deep Vein Thrombosis di Indonesia”, Prof. Usi menekankan bahwa DVT merupakan tantangan besar di bidang kesehatan. Angka kejadian di Indonesia diperkirakan masih tinggi, meski data komprehensif belum tersedia. Ia menyoroti adanya kesenjangan informasi antara praktik klinis dan kesadaran masyarakat, di mana banyak pasien maupun tenaga kesehatan belum sepenuhnya memahami tanda awal serta faktor risiko DVT. Sebagian besar kasus di Indonesia, menurutnya, ditemukan secara kebetulan atau baru terdiagnosis setelah muncul komplikasi berupa emboli paru.

img_title Kreativitas Daur Ulang Warnai Karnaval HUT ke-270 Kota Yogyakarta

Faktor risiko DVT bersifat multifaktorial, mulai dari kondisi genetik hingga lingkungan. Pasien yang menjalani perawatan intensif, pascapembedahan, atau mengalami keterbatasan aktivitas dalam jangka panjang memiliki risiko lebih besar. Prof  Usi menegaskan pentingnya pendekatan klinis yang komprehensif untuk mengenali dan mencegah penyakit ini, karena venous thromboembolism sebenarnya dapat dicegah apabila faktor risikonya dikenali sejak awal.

Ia juga menyoroti dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan oleh DVT. Pasien yang mengalami komplikasi kerap menghadapi biaya perawatan jangka panjang, keterbatasan aktivitas, dan penurunan kualitas hidup, yang pada akhirnya memengaruhi produktivitas keluarga dan komunitas. Kurangnya pendidikan masyarakat mengenai penyakit ini memperkuat tantangan dalam upaya pencegahan.

img_title Program Rumah Layak Pemkot Yogya, Lengkapi Akses Air Bersih

Kesadaran publik terhadap DVT dinilai masih rendah dibandingkan penyakit kardiovaskular lain seperti serangan jantung atau stroke. Banyak individu mengabaikan gejala awal, seperti bengkak atau nyeri pada tungkai, dan enggan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Padahal, pengenalan dini dapat menurunkan risiko komplikasi fatal secara signifikan. Edukasi publik serta kolaborasi lintas sektor kesehatan menjadi kunci utama dalam upaya pencegahan.

Pidato pengukuhan Prof. Usi menegaskan bahwa DVT adalah tantangan kesehatan mendesak di Indonesia. Namun, dengan deteksi dini dan pemeriksaan laboratorium yang tepat, penyakit ini dapat dicegah dan ditangani secara efektif. Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, menyampaikan bahwa Prof. Usi kini menjadi satu dari 559 guru besar aktif di UGM. Di lingkungan FK-KMK UGM, ia merupakan salah satu dari 74 guru besar aktif dari total 104 guru besar yang dimiliki fakultas tersebut.