Burnout, Lelah Berkepanjangan yang Menggerogoti Generasi Muda
- Dok UMY
VIVA Jogja - Burnout semakin sering dialami oleh mahasiswa maupun pekerja muda, namun masih banyak yang menganggapnya sekadar kelelahan biasa. Menurut dr Rr Tesaviani Kusumastiwi, dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), burnout adalah kondisi serius yang dapat mengancam kualitas hidup seseorang, baik secara fisik maupun psikis.
Dalam wawancara di Gedung Erwin Santosa UMY, Senin (26/01/2026), Tesaviani menegaskan bahwa burnout berbeda dengan kelelahan. Kelelahan biasanya bersifat sementara dan dapat pulih dengan istirahat, sedangkan burnout merupakan stres jangka panjang yang membuat tubuh tetap merasa lelah meski sudah beristirahat. Kondisi ini tidak hanya menguras energi, tetapi juga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan seperti sakit lambung, nyeri kepala, kecemasan, hingga depresi.
Fenomena ini sejalan dengan data terbaru. Global Student Survey 2025 mencatat bahwa di Indonesia, 59% mahasiswa menilai kesehatan mental mereka baik, namun 11% menyebutnya buruk. Burnout menjadi salah satu faktor yang mendorong penurunan kualitas mental mahasiswa. Sementara itu, riset nasional juga menunjukkan bahwa Generasi Z yang baru memasuki dunia kerja adalah kelompok paling rentan mengalami burnout. Meski dikenal adaptif dan kreatif, tekanan kerja yang tinggi serta tuntutan digital membuat mereka mudah mengalami kelelahan mental.
Tesaviani menjelaskan bahwa gejala awal burnout sering kali tidak disadari karena individu cenderung menolak mengakui kondisi psikis yang dialami. Tubuh sebenarnya memberi sinyal melalui keluhan fisik, seperti rasa lelah yang tidak hilang setelah tidur, cepat capek meski melakukan aktivitas ringan, nyeri otot, gangguan pencernaan, hingga siklus menstruasi yang tidak teratur. Dari sisi psikis, burnout dapat ditandai dengan mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi, cepat lupa, dan gangguan tidur.
Ia menekankan bahwa tidur memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental. Burnout dapat mengganggu keseimbangan kimia tubuh sehingga kualitas tidur menurun dan proses pemulihan tidak berjalan optimal. Karena itu, menjaga keseimbangan antara aktivitas dan waktu istirahat menjadi langkah pencegahan utama. Tesaviani juga mengingatkan agar setiap orang memberi penghargaan pada diri sendiri, tidak hanya memenuhi tuntutan eksternal.