UGM Hadirkan Buku Asesmen Programatik, Dorong Transformasi Pendidikan Kedokteran
- Istimewa
SLEMAN, VIVA Jogja - Universitas Gadjah Mada kembali menegaskan perannya sebagai pelopor inovasi pendidikan dengan meluncurkan sebuah buku penting yang membahas asesmen programatik dalam pendidikan kedokteran berbasis Outcome-Based Education (OBE). Acara peluncuran dan bedah buku berjudul “Programmatic Assessment dalam Pendidikan Berbasis Outcome-Based Education: Konsep dan Petunjuk Pelaksanaan bagi Institusi Pendidikan Kedokteran dan Kesehatan” digelar di Auditorium Gedung Tahir Foundation Sayap Utara, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM.
Buku ini ditulis oleh Prof dr Mora Claramita, sebagai penulis utama bersama 78 rekannya. Mora menjelaskan bahwa terdapat lima komponen penting dalam asesmen programatik, yakni learning activities, assessment activities, supporting activities, intermediate evaluation, dan final evaluation. Dengan kerangka tersebut, buku ini dirancang untuk membantu fakultas kedokteran dalam mengimplementasikan kurikulum OBE secara menyeluruh. “Learning dan assessment itu seharusnya terintegrasi dan kuncinya adalah dengan naratif feedback,” tegasnya.
Mora juga mengungkapkan bahwa proses penulisan buku ini memakan waktu cukup panjang karena dimulai sejak masa pandemi COVID-19. Sebelum diterbitkan, hasil penelitian yang mendasari buku ini telah digunakan sebagai advokasi untuk pengembangan asesmen. “Para penulis perlu melakukan workshop sebanyak tiga kali untuk menyamakan persepsi,” kenangnya.
Bedah buku menghadirkan sejumlah pakar. Prof dr Rr Titi Savitri Prihatiningsih, Guru Besar FK-KMK UGM, menganalogikan buku ini sebagai cookbook yang lengkap dengan panduan teknis. Menurutnya, buku ini menyajikan paradigma baru dalam asesmen programatik dengan banyak contoh praktik yang bisa langsung diterapkan. “Buku ini sangat direkomendasikan untuk dimiliki oleh institusi pendidikan dokter dan profesi kesehatan serta dapat menjadi pegangan bagi para pendidik,” ujarnya.
Sementara itu, Prof dr Eggi Arguni, menilai bahwa asesmen programatik adalah konsep yang baik dan akan memberikan hasil optimal jika diterapkan sesuai konteks. Ia menekankan pentingnya triangulasi berbagai sumber data, dokumentasi yang rapi, dukungan sistem IT, serta keterlibatan dosen. “Programmatic Assessment memiliki prinsip dasar yang sangat baik, namun untuk mengimplementasikannya masih banyak tantangannya,” ucapnya.
Dari sisi manajemen akademik, dr Ahmad Hamim Sadewa, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM, menegaskan bahwa asesmen programatik bukan hal yang mudah. Menurutnya, diperlukan pemahaman mendalam mengenai konsep, mekanisme, hingga implementasi agar kualitas pendidikan dokter di Indonesia dapat terus meningkat. “Tujuannya dengan asesmen yang kita bangun maka kualitas pendidikan dokter di FK-KMK dan di Indonesia bisa terus meningkat dan lebih baik ke depannya,” ungkap Hamim.