JFC Batch 3 Bekali Wartawan Hadapi Tantangan Media Sosial dan Disrupsi Informasi

JFC Batch 3 Bekali Wartawan Hadapi Tantangan Media Sosial dan Disrupsi Informasi
Sumber :
  • Viva Jogja

VIVA Jogja –Perkembangan media sosial yang begitu pesat menjadi tantangan tersendiri bagi dunia jurnalistik.

img_title Lestarikan Batik Lewat Isyarat Jemari, Cerita Ruang Setara untuk Siswa Difabel di Rumah Batik TBIG Pekalongan

Kondisi tersebut mengemuka dalam kegiatan Journalism Fellowship on CSR (JFC) Batch 3 saat sejumlah peserta mempertanyakan masa depan media arus utama di tengah maraknya akun media sosial yang menyajikan informasi secara cepat.

Dalam kelas daring bertajuk News Planning, Getting, and Processing, pemateri Nurcholis MA Basyari menegaskan bahwa keunggulan utama media massa tetap terletak pada proses verifikasi dan kepatuhan terhadap kaidah jurnalistik.

img_title CSR Perusahaan Jadi Mitra Strategis Pemerintah Percepat Layanan Kesehatan

Materi yang disampaikan menyoroti pentingnya penerapan kegiatan jurnalistik 6M, mulai dari mencari hingga mempublikasikan informasi yang telah melalui proses pengolahan dan pengujian data.  

Menurut Nurcholis, wartawan harus mampu mempertahankan identitas profesinya di tengah perubahan lanskap informasi digital.

img_title Hadirkan Akses Layanan Kesehatan Gratis, Mobil Klinik CSR TBIG Sasar Hingga Daerah Terpencil

“Wartawan harus tetap menjadi wartawan. Bukan YouTuber, bukan TikToker, dan bukan buzzer.

Kekuatan pers ada pada proses verifikasi dan tanggung jawab terhadap informasi yang disampaikan kepada publik,” ujarnya dalam sesi pelatihan.  

Ia menjelaskan bahwa setiap berita harus memenuhi unsur 5W+1H, akurat, berimbang, objektif, serta berasal dari sumber yang kompeten dan kredibel sebelum dipublikasikan.  

Diskusi berlangsung interaktif ketika beberapa jurnalis peserta menanyakan fenomena disrupsi media yang ditandai dengan meningkatnya konsumsi informasi dari media sosial.

Mereka menyoroti persaingan antara media massa dengan kreator konten yang sering kali lebih cepat menyebarkan informasi kepada publik.

Menanggapi hal tersebut, Nurcholis menilai media massa tidak perlu bersaing dalam kecepatan semata, melainkan harus memperkuat kualitas informasi.

“Media sosial bisa lebih cepat menyampaikan informasi, tetapi jurnalisme memiliki nilai tambah berupa verifikasi, konfirmasi, dan tanggung jawab publik. Di situlah letak kepercayaan yang harus terus dijaga media,” jelasnya.

Selain membahas teknik peliputan dan wawancara, pelatihan juga mengulas prinsip-prinsip dasar jurnalisme yang menempatkan kebenaran, independensi, dan disiplin verifikasi sebagai fondasi utama kerja wartawan.  

Melalui pelatihan tersebut, peserta diharapkan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi tanpa meninggalkan standar profesionalisme dan etika jurnalistik yang menjadi pembeda utama antara produk jurnalistik dan konten media sosial.