Nyeri Perut Bagian Atas, Waspadai Dispepsia
- Dok Humas UGM
SLEMAN, VIVA Jogja – Nyeri perut bagian atas atau yang dikenal dengan istilah dispepsia menjadi salah satu keluhan kesehatan yang paling sering dialami masyarakat. Kondisi ini tidak mengenal usia, mulai dari remaja hingga lansia. Data medis menunjukkan bahwa nyeri perut akut menyumbang sekitar 7–10 persen dari seluruh kunjungan ke Unit Gawat Darurat (UGD), menjadikannya salah satu masalah kesehatan yang patut diwaspadai.
Dalam sebuah talk show kesehatan yang digelar di Klinik Gadjah Mada Medical Center (GMC) UGM, dokter spesialis penyakit dalam RSA UGM, dr Noviantoro Sunarko Putro, menjelaskan bahwa dispepsia merupakan rasa tidak nyaman yang bersumber dari area lambung. Gejala yang paling umum antara lain rasa terbakar di ulu hati, perut terasa penuh setelah makan, cepat kenyang, serta sering bersendawa. “Keluhan ini sering dianggap sepele, padahal bisa menjadi tanda adanya gangguan serius,” ujarnya.
Noviantoro menambahkan, penyebab dispepsia dapat dibagi menjadi dua kategori besar, yakni gangguan organik dan gangguan fungsional. Dispepsia organik biasanya disebabkan oleh luka pada lambung, naiknya asam lambung, efek samping obat-obatan tertentu, hingga kemungkinan adanya kanker. Sementara itu, dispepsia fungsional lebih banyak dipengaruhi oleh gaya hidup, seperti kurangnya aktivitas fisik, pola makan yang tidak teratur, serta faktor psikologis berupa stres. Ia menekankan bahwa tanda-tanda dispepsia harus dikenali sejak dini. Penurunan berat badan secara tiba-tiba, kesulitan menelan, muntah berulang, atau munculnya benjolan di perut bagian atas merupakan gejala yang tidak boleh diabaikan.
Spesialis radiologi RSUP Dr. Sardjito, dr. Bestari Ariningrum Setyawati, M.Si.MEd., Sp.Rad., turut menekankan pentingnya pemeriksaan ultrasonografi (USG) perut sebagai langkah awal dalam mendiagnosis keluhan nyeri perut. Menurutnya, USG merupakan pemeriksaan penunjang lini pertama yang dapat memberikan gambaran kondisi organ dalam secara akurat. “Kami berharap pasien bisa terbuka dan menjelaskan keluhan secara detail saat anamnesis. Keterbukaan ini sangat penting agar diagnosa tepat sasaran,” jelas Bestari.
Bagi kalangan mahasiswa atau anak kos yang sering tinggal sendiri, Novianto menyarankan penanganan mandiri awal ketika merasakan nyeri perut, misalnya dengan mengonsumsi obat yang tersedia di apotek. Namun, ia mengingatkan bahwa jika nyeri bersifat berulang, perlu diwaspadai kemungkinan adanya kaitan dengan siklus menstruasi atau gangguan lain yang lebih serius. Pemeriksaan USG menjadi langkah penting untuk memastikan titik nyeri dan penyebabnya.