Sastra Indonesia Masih Tertahan dari Panggung Dunia
- Dok Humas UGM
SLEMAN, VIVA Jogja - Hadiah Nobel Sastra 2025 yang jatuh kepada novelis Hungaria, László Krasznahorkai, memantik diskusi hangat di kalangan akademisi Indonesia. Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Aprinus Salam, menilai keputusan panitia Nobel mencerminkan kepekaan terhadap krisis eksistensial dan moral yang tengah melanda dunia. Menurutnya, karya Krasznahorkai menghadirkan refleksi atas situasi global yang disebutnya “apokaliptik”, sekaligus membantu manusia menyadari kenyataan pahit yang harus dihadapi.
Aprinus menekankan bahwa Nobel Sastra selalu diberikan kepada penulis yang mampu menghadirkan pembaharuan, baik dari segi teknik, pengetahuan, maupun cara pandang terhadap manusia. Pembaharuan itu, katanya, menjadi jalan bagi sastra untuk menolong manusia memahami ulang dunia yang terus berubah. Ia menilai, panitia Nobel bahkan kadang bersikap politis dengan mengangkat isu-isu yang penting untuk kembali diperbincangkan.
Dalam konteks Indonesia, Aprinus mengingatkan bahwa bangsa ini pernah mengalami peristiwa besar seperti tragedi 1965 dan 1998, yang menelan ribuan korban jiwa. Namun, menurutnya, yang lebih mengerikan justru adalah runtuhnya moral dan spiritualitas setelah peristiwa tersebut. “Kita tidak cukup berani memperbaiki kerusakan itu. Kondisi kita bahkan lebih buruk dibanding tragedi itu sendiri,” ujarnya.
Ketika ditanya mengapa sastra Indonesia belum menembus panggung penghargaan dunia seperti Nobel, Aprinus menilai hambatan utama terletak pada situasi ekonomi, politik, dan budaya yang belum mendukung perjuangan kemanusiaan melalui tulisan. Menulis sastra, katanya, adalah pekerjaan berat yang menuntut pengetahuan luas dan keberanian moral. Selain faktor struktural, ia juga melihat kendala mendasar pada karakter penulis Indonesia yang cenderung cepat puas dan belum terbiasa dengan kerja keras untuk menghasilkan karya mendalam. Meski begitu, ia mengakui sejumlah karya berkualitas telah lahir dari tanah air, hanya saja belum mendapat dukungan sistematis untuk diterjemahkan ke bahasa asing agar dikenal dunia.
Aprinus menambahkan, kampus memiliki peran penting dalam melahirkan peneliti dan kritikus sastra dengan menyediakan fasilitas bagi mereka yang berjuang secara individual. Namun ia menilai pemerintah, khususnya Kementerian Kebudayaan, memiliki peluang lebih besar karena memiliki dana yang bisa dialokasikan untuk mendukung penulis serius.