Pakar UMY Ingatkan Desil DTSEN Bukan Label Mutlak Kesejahteraan

Pakar Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dr Susilo Nur Aji Cokro Darsono
Sumber :
  • Humas UMY

img_title Guru Besar Harus Terus Berkarya, LLDIKTI V dan Senat UMY Tekankan Integritas Akademik dan Dampak bagi Masyarakat

BANTUL,  VIVA Jogja – Pengelompokan masyarakat berdasarkan desil kesejahteraan dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) dinilai perlu terus dievaluasi agar mampu mencerminkan kondisi ekonomi rumah tangga yang dinamis. Pakar Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr Susilo Nur Aji Cokro Darsono, menegaskan bahwa desil tidak boleh dianggap sebagai label mutlak yang menentukan kesejahteraan seseorang. Menurutnya, posisi keluarga dalam pemeringkatan bisa berubah sewaktu-waktu akibat kehilangan pekerjaan, penurunan pendapatan, bertambahnya tanggungan, atau munculnya pengeluaran mendadak seperti biaya kesehatan.

Susilo menjelaskan bahwa metode Proxy Means Test (PMT) yang digunakan dalam DTSEN memang mengandalkan sejumlah indikator yang relatif stabil untuk menggambarkan kondisi sosial ekonomi rumah tangga. Namun, ia menekankan bahwa kondisi ekonomi keluarga bisa berubah dalam waktu singkat setelah data dikumpulkan. “Desil adalah alat bantu penyaringan, bukan vonis. Ia hanya menunjukkan posisi relatif sebuah keluarga dalam masyarakat, bukan label permanen kesejahteraan,” ujarnya.

img_title Obesitas Anak Diprediksi Terus Naik hingga 2050, Pakar UMY Soroti Pola Hidup dan Peran Keluarga

DTSEN sendiri merupakan basis data tunggal yang mengintegrasikan berbagai sumber informasi sosial ekonomi untuk mendukung kebijakan pemerintah. Pemeringkatan kesejahteraan membagi masyarakat ke dalam 10 kelompok, dari desil 1 sebagai kelompok dengan kesejahteraan terendah hingga desil 10 sebagai kelompok dengan kesejahteraan tertinggi. Data ini bersifat dinamis dan terus diperbarui, namun Susilo menilai pemutakhiran harus lebih adaptif agar mampu menangkap perubahan kondisi ekonomi rumah tangga secara aktual.

Ia menekankan bahwa kesejahteraan tidak hanya ditentukan oleh pendapatan. Faktor lain seperti kepemilikan aset, jumlah tanggungan, jenis pekerjaan, utang, serta akses terhadap layanan dasar juga berperan besar. Satu angka desil, menurutnya, belum tentu mampu menggambarkan kompleksitas kondisi ekonomi keluarga. “Pendapatan hanyalah salah satu aspek. Kita perlu melihat apakah keluarga memiliki tabungan, bagaimana akses mereka terhadap pendidikan dan kesehatan, serta apakah pekerjaan yang dijalani bersifat tetap atau informal,” jelasnya.

img_title LSP UMY Gelar Uji Kompetensi 831 Peserta, Siapkan Kerja Sama Sertifikasi Internasional

Susilo juga menyoroti pentingnya memperhitungkan kerentanan ekonomi. Keluarga yang tampak stabil bisa saja jatuh miskin ketika menghadapi guncangan, seperti kehilangan pekerjaan atau meningkatnya biaya kesehatan. Jika perubahan ini belum tercermin dalam data, maka posisi desil keluarga tidak lagi relevan dengan kondisi nyata.

Halaman Selanjutnya
img_title