Pelemahan Rupiah Perbesar Kerentanan Kelas Menengah dan Stabilitas Sosial

Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Dr Arie Sujito
Sumber :
  • Dok Humas UGM

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali berada dalam tekanan. Pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.590 hingga Rp17.660 per dolar AS. Angka tersebut melanjutkan tren pelemahan yang dalam beberapa pekan terakhir memicu kekhawatiran publik terhadap kondisi ekonomi domestik. Di tengah gejolak tersebut, kelompok kelas menengah dinilai menjadi pihak yang paling rentan merasakan dampaknya. Pelemahan rupiah bukan lagi sekadar angka di layar perdagangan, melainkan ancaman nyata terhadap daya beli, tabungan, investasi, hingga rasa aman ekonomi masyarakat yang selama ini hidup dalam kondisi serba cukup, tetapi belum memiliki bantalan finansial yang kuat.

img_title Optimisme Kerja Menurun, Ketidakpastian Ekonomi Jadi Sorotan

Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Dr Arie Sujito, menilai pelemahan rupiah membawa dampak langsung terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat, terutama kelompok kelas menengah di wilayah perkotaan. Menurutnya, kenaikan berbagai biaya kebutuhan hidup membuat masyarakat harus menghitung ulang pengeluaran rumah tangga dan menyesuaikan berbagai rencana hidup yang sebelumnya telah disusun. Kondisi tersebut perlahan memengaruhi pola konsumsi masyarakat, terutama untuk kebutuhan sekunder yang mulai dikurangi demi menjaga kestabilan ekonomi keluarga. Arie menuturkan situasi ini turut memunculkan rasa tidak aman karena cadangan sumber daya ekonomi yang dimiliki masyarakat mengalami penurunan nilai secara signifikan.

Ia mengungkapkan tekanan ekonomi global yang terjadi saat ini semakin memperbesar kerentanan ekonomi domestik Indonesia. Konflik geopolitik internasional, termasuk perang antara Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya, dinilai turut memengaruhi kenaikan harga minyak dunia dan berbagai biaya kebutuhan di dalam negeri. Menurutnya, situasi tersebut membuat negara menghadapi tantangan besar untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mempertahankan kemampuan subsidi bagi masyarakat. Dampak dari kondisi global tersebut dalam jangka pendek dinilai paling cepat dirasakan kelompok kelas menengah dan masyarakat bawah. “Kalau negara tidak memiliki kemampuan mengatasi secara cepat, dampaknya akan beruntun,” ujarnya.

img_title Rupiah Tertekan, Ekonom UMY Tegaskan Fondasi Ekonomi Nasional Tetap Kokoh

Arie menilai tekanan ekonomi yang terus berlangsung dapat berkembang menjadi persoalan sosial yang lebih luas apabila tidak segera diantisipasi. Ia menjelaskan ketika masyarakat mulai kesulitan memenuhi kebutuhan primer, dampaknya tidak lagi terbatas pada persoalan ekonomi rumah tangga semata. Situasi tersebut dapat memengaruhi stabilitas sosial karena masyarakat mengalami penurunan rasa aman terhadap kondisi hidup mereka. Kerentanan itu, menurutnya, akan semakin besar apabila fondasi ekonomi nasional tidak cukup kuat menghadapi tekanan global yang berkepanjangan.

Halaman Selanjutnya
img_title