Pertamina Perlu Dukungan Publik untuk Hadapi Mafia Migas
- Bing Image Creator
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Pertamina saat ini sedang berada dalam fase pembenahan besar-besaran. Perusahaan energi milik negara tersebut tengah berusaha memperbaiki tata kelola dan meningkatkan kualitas layanan agar lebih transparan, efisien, serta bebas dari praktik-praktik yang merugikan. Namun, langkah ini tidak bisa dijalankan sendirian. Dukungan dari berbagai pihak dianggap sangat penting, terutama karena Pertamina berpotensi menjadi sasaran tekanan dari jaringan mafia migas yang masih bercokol di sektor energi nasional.
Direktur Eksekutif Lembaga Literasi Politik Indonesia (LPI), Ujang Komarudin dalam keterangan tertulisnya menegaskan bahwa mafia migas memiliki banyak cara untuk melemahkan Pertamina. Mereka bisa menekan melalui jalur politik, ekonomi, bahkan memanfaatkan opini publik. Karena itu, menurutnya, seluruh elemen bangsa harus ikut menjaga agar mafia migas tidak berhasil menggerogoti perusahaan pelat merah tersebut. Ia menilai pembenahan tata kelola yang dilakukan Pertamina harus benar-benar bersih dari praktik mafia. Jika tata kelola berhasil diperbaiki, Pertamina akan menjadi lebih sehat, kuat, dan mampu bersaing di tengah tantangan global.
Ujang juga mengingatkan bahwa dukungan terhadap Pertamina tidak boleh hanya datang dari Presiden Prabowo semata. Dukungan itu harus meluas hingga ke masyarakat, akademisi, dan semua pihak yang peduli terhadap keberlangsungan energi nasional. Tanpa dukungan yang solid, risiko yang dihadapi Pertamina sangat besar. Ia mencontohkan kemungkinan adanya adu domba antara Pertamina dan masyarakat, atau bahkan penyusupan mafia migas ke dalam tubuh perusahaan. Jika hal itu terjadi, tata kelola Pertamina bisa rusak dan perusahaan akan kehilangan kepercayaan publik. Karena itu, ia menekankan bahwa dukungan publik terhadap upaya bersih-bersih mafia migas harus menjadi gerakan bersama.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh pengamat energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi. Ia menilai ancaman mafia migas masih nyata dan tidak pernah benar-benar hilang. Menurutnya, jaringan mafia migas justru beregenerasi, melanjutkan praktik lama dengan pola yang sama. Kasus terbaru menunjukkan keterlibatan anak dari Riza Chalid, tokoh yang sebelumnya dikenal dalam jaringan mafia migas. Fahmy menilai modus yang digunakan tidak berbeda dengan generasi sebelumnya, hanya saja kali ini eksekusinya kurang rapi sehingga berhasil diungkap oleh Kejaksaan.