Dwikorita Karnawati: Refleksi Peringatan Dini dan Kesiapsiagaan
- Istimewa
Perubahan iklim sendiri erat kaitannya dengan aktivitas manusia. Konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer menciptakan selubung yang menahan panas bumi, memicu kenaikan suhu permukaan, dan mengganggu pola siklon tropis. Studi satelit sejak 1970 menunjukkan tutupan lahan di Jabodetabek yang semakin berkurang dari tahun ke tahun, sejalan dengan meningkatnya suhu permukaan.
Pemerintah daerah, seperti DKI Jakarta, menyadari keterbatasan menghadapi hujan ekstrem di atas 150 mm. Seberapa banyak pun pompa disediakan, kapasitasnya tidak akan sanggup. Karena itu, strategi modifikasi cuaca dilakukan dengan mengalihkan awan agar hujan turun di laut sebelum mencapai daratan. Langkah ini menjadi contoh nyata early response. Selain itu, inspeksi tanggul-tanggul peninggalan Belanda, pengerukan sungai, pembersihan saluran, dan kesiapan masyarakat juga menjadi bagian penting mitigasi.
Namun, pengalaman menunjukkan bahwa kesiapan teknis sering kali kalah oleh dahsyatnya bencana yang dipicu kerusakan ekologi. Kata “siaga” yang disampaikan aparat kepada masyarakat, misalnya, tidak selalu dipahami dengan benar. Banyak warga yang tetap beristirahat saat peringatan disampaikan, hingga akhirnya terkejut ketika air sudah naik.
Pelajaran besar dari semua ini adalah bahwa ekologi tidak boleh dilanggar. Seberapa pun kuat sistem peringatan dini dan respons cepat disiapkan, jika ekologi rusak, kesiapan manusia akan selalu dilampaui oleh kejadian alam. Menjaga hutan, memperbaiki tata ruang, dan mengendalikan aktivitas antropogenik menjadi kunci agar bangsa ini tidak terus-menerus kalah menghadapi siklon tropis dan banjir bandang.