Dwikorita Karnawati: Refleksi Peringatan Dini dan Kesiapsiagaan
- Istimewa
“Sudahkah kita siap? Early warning system sudah berjalan, tapi tanpa kesiapan respons cepat di lapangan, peringatan dini tidak akan efektif,” ujarnya menutup refleksi.
Siklon Tropis dan Tantangan Ekologi
BMKG memprediksi hingga Maret mendatang masih akan terjadi siklon tropis, terutama di wilayah selatan Indonesia. Siklon yang sebelumnya bergerak dari barat kini cenderung bergeser ke selatan, mendekati Selat Sunda, lalu berputar ke Jawa, bahkan ada yang terus melintas hingga Australia. Kondisi ini menunjukkan bahwa ancaman belum berakhir, terutama bagi kawasan Jawa dan Nusa Tenggara yang rentan terdampak.
Kerentanan wilayah tidak hanya ditentukan oleh posisi geografis, tetapi juga oleh iklim, cuaca, dan ekologi. Kajian banjir bandang yang dilakukan sejak 2003 di Bahoro, Taman Nasional Gunung Leuser, memperlihatkan bagaimana faktor geologi dan ekologi berperan besar. Saat itu, meski lokasi banjir tidak diguyur hujan, curah hujan lebat di punggungan Bukit Barisan memicu longsor di ratusan titik. Lereng yang rapuh akibat gempa kecil runtuh, membawa tanah dan pohon hingga ke akar-akarnya. Sungai-sungai sempit di perbukitan menjadi tertutup longsoran, membentuk bendungan alami. Ketika tekanan air meningkat, bendungan itu jebol seketika, meluncurkan banjir bandang dengan kecepatan tinggi ke dataran rendah yang dipenuhi permukiman dan kawasan wisata.
Fenomena ini menunjukkan bahwa banyak lahan hunian saat ini sebenarnya berada di bantaran banjir bandang purba. Secara alamiah, periode ulang banjir bandang bisa mencapai 50 tahun. Namun kini, kejadian serupa bisa terulang dalam 5 hingga 10 tahun.
Faktor antropogenik, perubahan lahan, deforestasi, dan kerusakan ekologi—membuat bencana lebih sering terjadi dan lebih dahsyat.
Siklon tropis yang muncul belakangan juga menunjukkan anomali. Biasanya siklon memiliki jalur tetap dan akan melemah ketika memasuki daratan. Kali ini, siklon justru mampu menyeberang, bahkan melintasi Selat Malaka dan Semenanjung Malaya. Lebih aneh lagi, siklon yang biasanya tidak bisa menembus zona tropis di lintang 10 derajat utara maupun selatan, kini justru tumbuh di zona tersebut. Para pakar meteorologi menyebutnya sebagai anomali iklim yang dipengaruhi perubahan atmosfer global.