Guru Besar UGM Usulkan Dana MBG Dialihkan Daerah Bencana
- Dok UGM
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Deretan bencana alam yang melanda Indonesia akhir-akhir ini kembali menyingkap rapuhnya sistem pendidikan di daerah terdampak. Erupsi Gunung Semeru di Jawa Timur dan Jawa Tengah, disusul banjir besar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, membuat aktivitas masyarakat lumpuh. Sektor pendidikan pun tak luput dari dampak.
Menanggapi situasi tersebut, Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM Prof Dr.rer.soc. R Agus Sartono, sekaligus mantan Deputi Menko Kesra dan PMK, menekankan perlunya langkah cepat pemerintah. “Bantuan darurat harus segera hadir, mulai dari tenda pengungsian, dapur umum, hingga kebutuhan dasar seperti air bersih dan listrik,” ujarnya dalam keterangan, Kamis (11/12/2025).
Agus menilai, penanganan anak-anak usia sekolah harus menjadi prioritas sejak awal. Relawan dapat melakukan trauma healing melalui kegiatan sederhana seperti bernyanyi dan bermain, sekaligus memastikan layanan kesehatan tetap berjalan. “Relawan sangat dibutuhkan, apalagi guru pun banyak yang terdampak,” katanya.
Ia menegaskan, capaian pendidikan di daerah bencana tidak bisa disamakan dengan wilayah lain. Infrastruktur yang rusak, akses listrik dan komunikasi yang terputus, membuat pembelajaran daring mustahil dilakukan. “Lebih bijaksana jika tidak dipaksakan capaian yang sama dengan daerah lain,” tambahnya.
Tantangan Pemulihan
Menurut Agus, pemulihan pendidikan pasca bencana membutuhkan waktu panjang. Perbaikan sekolah rusak berat bisa memakan waktu lebih dari enam bulan. Di sisi lain, banyak pemerintah daerah tidak memiliki anggaran cukup untuk membangun kembali. “Afirmasi dari Pemerintah Pusat mutlak diperlukan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya bantuan tunai bagi siswa dan keluarga terdampak. Bantuan KIP dinilai belum cukup. “Siswa perlu dukungan untuk pakaian, alat tulis, bahkan bantuan tunai selama enam bulan ke depan,” jelasnya. Guru pun tak boleh diabaikan: mereka membutuhkan konseling dan jaminan kebutuhan dasar agar bisa kembali mengajar.
Agus menyoroti besarnya anggaran Merdeka Belajar Global (MBG) yang akan digelontorkan pemerintah. Tahun 2025, penyerapan dana MBG baru sekitar Rp60 triliun, sementara pada 2026 diperkirakan mencapai Rp375 triliun dari alokasi 20% APBN/APBD untuk pendidikan. “Akan jauh lebih bijaksana jika sebagian dana itu dialihkan untuk pemulihan infrastruktur pendidikan di daerah bencana,” usulnya.