Micro Tourism Menguat, Pakar UGM Ingatkan Risiko Bencana dan Tiket Pesawat
- Dok Humas UGM
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Tren pariwisata nasional pada momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 menunjukkan pergeseran signifikan. Fenomena micro tourism atau wisata jarak dekat dengan durasi singkat semakin menguat, terutama di destinasi populer seperti Yogyakarta. Pola perjalanan ini dinilai mampu menekan biaya tanpa mengurangi intensitas rekreasi, sekaligus memberi rasa aman bagi wisatawan.
Peneliti pariwisata Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr M Yusuf MA, menyebutkan bahwa lonjakan wisatawan ke Yogyakarta didorong oleh aksesibilitas yang semakin mudah, terutama berkat jaringan tol yang memangkas waktu tempuh. Selain itu, faktor persepsi keamanan terhadap bencana alam juga menjadi alasan utama. “Wisatawan mempersepsikan Jogja memiliki tingkat keamanan yang tinggi atau risiko kerawanan yang rendah sehingga banyak sekali wisatawan hingga membludak,” ujarnya, Senin (02/01/2026).
Meski demikian, Yusuf mengingatkan pentingnya mitigasi bencana di setiap destinasi wisata. Ia menekankan perlunya roadmap mitigasi yang mencakup identifikasi potensi bencana, pemanfaatan sumber daya lokal sebagai modal respon, serta prosedur jelas jika bencana terjadi. “Setiap destinasi harus punya panduan agar wisatawan merasa aman sekaligus terlindungi,” katanya.
Fenomena overtourism yang kerap muncul di akhir pekan juga menjadi sorotan. Yusuf menyarankan pengembangan program weekdays tourism berbasis kesehatan dan kebugaran. Menurutnya, segmen pengusaha, pensiunan, dan pekerja remote dapat menjadi target utama untuk mengurangi penumpukan pengunjung di akhir pekan.
Ia juga melontarkan kritik terhadap wacana subsidi tiket pesawat. Menurutnya, subsidi tidak menyelesaikan akar persoalan mahalnya biaya transportasi udara. “Subsidi tiket hanyalah bahasa pemasaran. Lebih tepat jika ditempuh melalui penurunan pajak suku cadang pesawat, biaya bandara, dan harga avtur,” tegasnya.
Selain itu, Yusuf menilai konsep work from mall kurang tepat. Ia lebih mendorong gagasan work from tourism destination yang berpihak pada masyarakat desa wisata. “Ketimbang menghidupkan kapitalis, mari kita coba berpihak kepada masyarakat rentan melalui desa wisata yang dikelola masyarakat,” ujarnya.
Sebagai penutup, Yusuf menekankan pentingnya pariwisata inklusif. Ia mengapresiasi langkah pemerintah daerah yang membangun ruang publik gratis hingga tingkat kecamatan, namun mengingatkan agar pengelolaan dilakukan secara profesional. “Healing adalah hak semua lapisan masyarakat. Pariwisata inklusif harus mampu menarik minat luas dengan tetap menjaga aspek keselamatan,” pungkasnya.