Risiko Pemimpin Boneka Pasca-Invasi AS di Venezuela
- Dok UMY
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Pergantian kekuasaan yang terjadi akibat tekanan eksternal sering kali hanya menghadirkan bayangan semu perubahan politik. Hal ini disampaikan oleh Prof Dr Zuly Qodir, Guru Besar Sosiologi Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), yang menilai bahwa pemimpin baru pasca-invasi Amerika Serikat ke Venezuela berpotensi kehilangan legitimasi dan sekadar menjadi perpanjangan tangan kepentingan asing.
Menurut Zuly, masyarakat yang kecewa terhadap rezim lama biasanya langsung memberikan dukungan kepada sosok pengganti, tanpa menimbang secara kritis proses di balik pergantian tersebut. Ia menekankan bahwa pola semacam ini berbahaya karena membuka peluang lahirnya pemimpin boneka.
“Ketika rakyat sudah muak dengan pemimpin lama, lalu ada kekuatan asing yang menurunkannya, dukungan spontan sering muncul. Padahal, pemimpin hasil intervensi asing sangat mungkin tidak berpihak pada rakyat,” ujarnya di kampus UMY, Selasa (06/01/2026).
Euforia perubahan, lanjutnya, kerap menutup kesadaran publik terhadap risiko jangka panjang. Dukungan politik yang hanya didasarkan pada ketidaksukaan terhadap pemimpin sebelumnya tidak otomatis menghasilkan pemerintahan yang lebih baik.
“Yang penting bukan sekadar siapa yang diganti, melainkan bagaimana proses pergantian itu berlangsung dan kepentingan siapa yang dilayani,” tegas Zuly.
Dalam konteks Venezuela, ia menilai risiko pemimpin boneka semakin besar karena posisi strategis negara tersebut sebagai produsen minyak dunia. Pemimpin yang lahir dari intervensi asing biasanya terikat pada kepentingan pihak yang mendukungnya, bukan pada kebutuhan rakyat.
Penangkapan Presiden Venezuela oleh Amerika Serikat, menurut Zuly, justru berpotensi menimbulkan krisis legitimasi. Situasi ini membuat masyarakat kehilangan otoritas yang jelas, sementara kendali pemerintahan beralih ke aktor eksternal.
Keretakan di kalangan elite politik, militer, dan intelijen Venezuela semakin memperparah keadaan. Perbedaan sikap elite terhadap intervensi asing membuka ruang instabilitas yang lebih luas di tengah masyarakat.
Zuly juga mengingatkan bahwa narasi penyelamatan dan stabilisasi pasca-invasi bisa dengan mudah memanipulasi dukungan publik. Dalam kondisi krisis, masyarakat cenderung mencari figur pengganti secara cepat tanpa refleksi mendalam.
Karena itu, ia menekankan pentingnya keberadaan kelompok masyarakat yang independen dan kritis. Tanpa kontrol sosial yang kuat, transisi kekuasaan berisiko sepenuhnya dikendalikan oleh pihak luar.