Wapada, Super Flu Mulai Terdeteksi di Indonesia

dr Farindira Vesti Rahmasari
Sumber :
  • Humas UMY

YOGYAKARTA, VIVA Jogja -  Demam tinggi yang bertahan lama, nyeri otot hebat, kelelahan ekstrem, hingga batuk persisten menjadi gejala yang kini dikaitkan dengan super flu. Varian baru influenza A ini dilaporkan pertama kali di Amerika Serikat pada Agustus 2025 oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sebelum akhirnya menyebar ke berbagai negara termasuk Indonesia.

img_title Pemimpin Perguruan Tinggi Harus Hadirkan Terobosan, Pesan Haedar Nashir di Milad ke-35 UNISA Yogyakarta

Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr Farindira Vesti Rahmasari, menjelaskan bahwa super flu merupakan varian influenza tipe A subtipe H3N2 dengan subklade baru, yakni K. “Virus ini sebenarnya masih keluarga influenza yang sudah lama kita kenal, hanya saja muncul subklade baru yang belum banyak ditemukan sebelumnya,” ujarnya, Kamis (08/01/2026).

Kementerian Kesehatan RI mencatat hingga Desember 2025 terdapat 62 kasus terkonfirmasi super flu. Meski jumlahnya belum signifikan, temuan ini menjadi perhatian karena di sejumlah negara lain kasusnya meningkat tajam. Farindira menekankan bahwa kemunculan varian baru influenza adalah proses alamiah akibat mutasi virus, baik melalui antigenic drift maupun pertukaran materi genetik antarvirus manusia dan hewan.

img_title UMY Targetkan 7.500 Mahasiswa Baru, Dosen Diminta Aktif Promosikan Kampus

Ia menambahkan, kondisi pascapandemi Covid -19 turut mempercepat penyebaran influenza. Selama masa pembatasan, paparan virus influenza menurun, namun setelah aktivitas kembali normal, virus ini menyebar lebih luas dan cepat.

Secara klinis, super flu memang mirip dengan influenza biasa, tetapi tingkat keparahannya lebih tinggi. Masa pemulihan bisa berlangsung lebih dari dua minggu, dengan risiko komplikasi lebih besar. Kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis disebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi berat.

img_title Muhammadiyah Siapkan Peta Jalan Karier Dosen Menuju Guru Besar

“Gejalanya hampir sama dengan flu biasa, tetapi lebih berat. Demam bisa tinggi, nyeri otot lebih terasa, tubuh sangat lemas, dan durasi sakit lebih panjang,” jelas Farindira.

Sebagai langkah pencegahan, ia menekankan pentingnya vaksinasi influenza. Meski belum ada vaksin khusus untuk subklade K, vaksin flu yang tersedia tetap bermanfaat menurunkan risiko sakit berat dan komplikasi. Selain itu, perilaku hidup bersih dan sehat tetap menjadi kunci utama.

“Gunakan masker saat sakit, terapkan etika batuk dan bersin, rajin mencuci tangan, istirahat cukup, serta jaga daya tahan tubuh. Kebiasaan ini penting untuk melindungi kelompok rentan dan mencegah penularan,” pungkasnya.