UGM dan Pemkot Yogya Wujudkan Ruang Humanis di Pasar Terban
- Humas UGM
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Pasar Terban di Jalan C Simanjuntak, Gondokusuman, kini tampil dengan wajah baru setelah proses revitalisasi yang dimulai sejak 2024 rampung pada akhir 2025. Sejak resmi beroperasi penuh pada 10 Januari 2026, pasar tradisional ini tidak hanya menjadi pusat transaksi ekonomi, tetapi juga ruang interaksi budaya dan pendidikan.
Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa Pasar Terban memiliki peran lebih dari sekadar tempat jual beli. “Pasar ini adalah denyut kehidupan masyarakat. Keberadaan Rumah Potong Ayam (RPA) di dalamnya memastikan pemotongan ayam dilakukan secara halal, sehat, dan higienis,” ujarnya dalam rilis resmi.
Lokasi pasar yang berdekatan dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) membuka peluang kolaborasi lebih luas. Hasto menyebut, Pasar Terban dapat menjadi laboratorium bisnis berbasis kerakyatan sekaligus ruang pembelajaran bagi mahasiswa dan dosen. “Kita harapkan pasar ini bisa menjadi material teaching maupun material research yang dikembangkan bersama UGM,” tambahnya.
Sebagai tanda dimulainya operasional, UGM bersama Pemkot Yogyakarta menggelar kirab budaya dan pagelaran wayang purwa pada Sabtu (10/1). Kirab diikuti sekitar 300 peserta dari sekolah-sekolah sekitar Terban, warga, serta pedagang kaki lima yang akan menempati pasar. Pagelaran wayang dipimpin oleh dalang muda Ki Harlindar Mukti Prakoso, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya UGM angkatan 2025.
Dalam kesempatan itu, Wakil Rektor UGM Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat, dan Alumni, Dr. Arie Sujito, menekankan pentingnya kolaborasi di tengah krisis ekonomi. “Pasar Terban adalah bukti kerja sama antara masyarakat, pemerintah daerah, dan institusi pendidikan. Semoga pemerintah kota terus memfasilitasi, dan UGM siap terbuka untuk berkolaborasi,” katanya.
Arie juga mengingatkan agar pasar tidak hanya dipandang sebagai tempat mencari nafkah, melainkan juga arena demokrasi dan interaksi budaya. “Pasar harus dikelola dengan baik, menjaga kebersihan, kerukunan antar pedagang, serta menghindari praktik diskriminasi. Wayang yang ditampilkan hari ini adalah simbol bahwa kegiatan ekonomi juga bagian dari kebudayaan,” ujarnya.
Mantri Pamong Praja Kemantren Gondokusuman, Guritno, A.P., M.I.P., menambahkan bahwa pendampingan UGM akan memberi manfaat besar bagi pedagang. “Dengan dukungan sivitas akademika, pedagang bisa memanfaatkan teknologi informasi untuk menghidupkan pasar yang lebih modern. Kehadiran Pasar Terban yang baru menjadikan kawasan sekitar UGM semakin tertib dan nyaman,” harapnya.