Malioboro Menuju Full Pedestrian, Pemkot Pilih Bertahap

Pamong berbusana Adat Jawa kawal Malioboro
Sumber :
  • jogja.viva.co.id/Fuska Sani Evani

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Rencana menjadikan Malioboro sebagai kawasan full pedestrian belum bisa diwujudkan dalam waktu dekat. Pemerintah Kota Yogyakarta mengakui masih ada sejumlah kendala teknis yang harus diselesaikan sebelum kebijakan itu benar-benar diterapkan.

img_title Malioboro Bersiap Jadi Kawasan Pedestrian Bebas Emisi November 2026

Salah satu ganjalan utama adalah kebutuhan ruang putar balik (u-turn) di sirip-sirip Malioboro. Tanpa solusi yang tepat, warga lokal berpotensi menghadapi kemacetan baru. Selain itu, akses bagi ojek online dan pengantar makanan juga menjadi perhatian serius. Pemkot tidak ingin geliat bisnis kuliner di kawasan ikonik ini justru lesu akibat keterbatasan akses.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa langkah yang diambil akan dimulai dari hal-hal kecil yang terjangkau namun konsisten. “Masalah andong juga sama. Ada lebih dari 400 andong, tapi yang bisa mangkal di Malioboro hanya sekitar 60. Sisanya harus kita siapkan terminal khusus agar tidak semrawut,” ujarnya.

img_title Pemkot Yogyakarta Gelar Seleksi Beasiswa Prestasi Kelurahan 2026, Nilai TKA dan TKAD Jadi Penentu

Transisi moda transportasi tradisional juga menjadi prioritas. Pemkot mempercepat penggunaan becak listrik untuk menggantikan becak motor (bentor). Hasto menekankan bahwa begitu jumlah becak listrik memenuhi target, bentor akan segera dihentikan. “Nanti kita hitung dulu kekuatannya. Kalau sudah cukup, baru kita pertegas aturannya,” tambahnya.

Langkah ini, menurut Hasto, bukan sekadar penataan fisik. Ia meyakini wajah sumbu filosofi Yogyakarta akan perlahan berubah, memberi ruang lebih luas bagi pejalan kaki sekaligus menjaga nilai historis yang telah diakui UNESCO sebagai warisan dunia.

img_title Pemkot Yogyakarta Dorong Kawasan Penyangga Jadi Destinasi Wisata Baru

Diskusi intens selama tiga jam dengan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, memperkuat arah kebijakan tersebut. Ngarsa Dalem memberikan arahan agar penataan dilakukan melalui kajian dan evaluasi bertahap, bukan terburu-buru. “Arahan Ngarsa Dalem itu konkret, kita lakukan uji coba dan penilaian. Tidak harus sekarang berubah total, tapi ada tahapan yang dievaluasi bersama,” jelas Hasto.

Menurut catatan Dinas Perhubungan DIY, jumlah kunjungan wisatawan ke Malioboro mencapai lebih dari 5 juta orang per tahun. Sementara itu, rata-rata volume kendaraan yang melintas di kawasan tersebut mencapai 20 ribu unit per hari. Angka ini menunjukkan betapa kompleksnya tantangan penataan lalu lintas di Malioboro.

Halaman Selanjutnya
img_title