PBTY 2026: Toleransi Budaya Jadi Kekuatan Bangsa
- Humas Pemkot Yogya
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Yogyakarta kembali bersiap menyambut Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) yang akan digelar di Kampung Ketandan pada 25 Februari hingga 3 Maret 2026. Perayaan yang bertepatan dengan Tahun Baru Imlek ini telah lama menjadi salah satu agenda budaya paling dinantikan, bukan hanya oleh masyarakat Yogyakarta, tetapi juga wisatawan dari berbagai daerah bahkan mancanegara.
Pemerintah Kota Yogyakarta menegaskan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan PBTY sebagai bagian dari kalender resmi pariwisata kota. Walikota Hasto Wardoyo menyebut bahwa perayaan kali ini memiliki makna khusus karena bertepatan dengan bulan Ramadan. Ia berharap penyesuaian teknis tidak mengurangi esensi kebersamaan, sebab PBTY adalah simbol nyata toleransi antaragama dan antarbudaya. Dalam audiensi bersama Jogja Chinese Art and Culture Center (JCACC), Hasto menekankan bahwa PBTY telah menempatkan Yogyakarta sebagai salah satu rujukan utama perayaan Imlek dan Cap Go Meh di Indonesia. Setelah Singkawang, Yogyakarta tercatat sebagai kota dengan perayaan Cap Go Meh terbesar dan teramai. Menurutnya, magnet wisata ini harus terus dipertahankan, apalagi akses menuju Yogyakarta kini semakin mudah sehingga semakin banyak orang tertarik datang.
Hasto juga mendorong agar JCACC memperluas kalender kegiatan budaya, termasuk mengembangkan tradisi ziarah leluhur seperti Ceng Beng sebagai potensi wisata baru. Ia menilai hal ini dapat menarik wisatawan asing sekaligus warga keturunan Tionghoa yang memiliki ikatan sejarah dengan Yogyakarta.
Ketua JCACC, Tandean Harry Setio, menjelaskan bahwa PBTY 2026 akan berlangsung selama tujuh hari penuh dengan tema “Warisan Budaya, Kekuatan Bangsa.” Tema ini dipilih untuk menegaskan bahwa keberagaman adalah fondasi persatuan, sejalan dengan predikat Yogyakarta sebagai City of Tolerance. Tahun lalu, PBTY berhasil menarik 10.000 hingga 20.000 pengunjung, dan tahun ini panitia optimistis jumlah itu akan meningkat. Selain panggung utama di Kampung Ketandan, Malioboro akan menjadi pusat perhatian dengan digelarnya Malioboro Imlek Karnaval pada 28 Februari. Rangkaian acara mencakup pasar rakyat, bazar kuliner, pameran budaya, panggung hiburan, hingga lomba anak-anak.
Karena bertepatan dengan Ramadan, jadwal kegiatan akan menyesuaikan. Hiburan sore dikemas sebagai bagian dari ngabuburit, sementara acara malam dimulai setelah salat tarawih. Panitia juga menyiapkan pembagian takjil gratis di sejumlah titik sebagai bentuk kepedulian sosial. Dukungan lintas sektor dari Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Pariwisata, Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup, serta aparat keamanan akan memastikan kelancaran acara.