Pembangunan Jembatan Kewek Dimulai April
- jogja.viva.co.id/Fuska Sani Evani
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Revitalisasi total Jembatan Kewek yang menghubungkan kawasan Malioboro dan Kotabaru dipastikan segera berjalan. Pemerintah Kota Yogyakarta memperkirakan pekerjaan fisik dimulai pada April 2026, setelah proses pengadaan oleh Pelaksana Jalan Nasional (PJN) rampung pada Maret. Proyek ini akan ditangani langsung oleh Kementerian Pekerjaan Umum dengan alokasi anggaran sebesar Rp19 miliar dari APBN.
Kepala Bidang Jalan dan Jembatan DPUPKP Kota Yogyakarta, Hasri Nilam Baswari, menjelaskan bahwa saat ini tim teknis tengah melakukan pengujian struktur tanah. Fondasi jembatan harus berdiri di atas lapisan tanah keras, sehingga pemetaan titik kedalaman menjadi krusial. “Tahun lalu kami sudah uji satu titik di sebelah barat sungai, sekarang ditambah lagi sesuai permintaan P2JN untuk memastikan kedalaman tanah keras memang berada di kisaran 20 meter,” ujarnya, Senin (19/01/2026).
Data pembanding di Jembatan Segoro Amarta maupun Kleringan menunjukkan lapisan tanah terkeras berada di kedalaman sekitar 20 meter. Hasil ini akan menjadi acuan rancangan fondasi Jembatan Kewek agar aman dan kokoh. Sementara itu, penyusunan Detailed Engineering Design (DED) telah mencapai 80 persen, dan dokumen Amdal serta kajian lalu lintas masih dalam proses.
Hasri menambahkan, wajah baru jembatan kemungkinan akan mengalami sedikit perubahan pada fasad. “Untuk fasad memang harus mendapatkan rekomendasi dari Dewan Warisan Budaya. Jadi mungkin ada perubahan, tapi tidak banyak,” katanya. Penyesuaian desain dilakukan agar tetap selaras dengan karakter kawasan cagar budaya di sekitarnya.
Proyek ini diperkirakan berlangsung selama sembilan bulan, sehingga Jembatan Kewek versi baru ditargetkan sudah bisa beroperasi penuh pada Desember 2026. Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan rehabilitasi total tidak bisa ditunda lagi mengingat usia jembatan yang sudah lebih dari satu abad. “Alhamdulillah sudah disanggupi dari Kementerian PU senilai Rp19 miliar untuk dialokasikan di tahun 2026. Kita langsung diberikan persetujuan cepat untuk kemudian diakuisisi oleh APBN,” jelasnya.
Meski dibangun ulang secara total, aspek sejarah tetap akan dipertahankan. Jembatan yang berdiri sejak era Sri Sultan Hamengku Buwono VIII ini akan didokumentasikan dan narasi sejarahnya dipreservasi. “Kita harus mendokumentasi jembatan ini, membuat narasi, kemudian meninggalkan sebagian sebagai penanda. Ini bagian dari sejarah panjang yang dimulai dari Ngarsa Dalem Kedelapan,” ujar Hasto.