Pukis “Sultan” Jogja: Harum Menggoda, Mahal Tapi Rela Antre!
- VIVA Jogja/IG kuliner jogya
VIVA Jogja – Di tengah menjamurnya jajanan kaki lima, satu lapak pukis di kawasan Kotabaru justru mencuri perhatian karena harganya yang tak biasa. Pukis Ko Yung Kotabaru dikenal sebagai “pukis sultan” di Jogja, dengan harga mencapai Rp9.000 per biji.
Meski terbilang mahal untuk ukuran jajanan tradisional, peminatnya justru tak pernah sepi. Daya tarik utama pukis di sini terletak pada aromanya yang begitu harum sejak masih di atas cetakan.
Adonan yang dipanggang langsung di tempat menghasilkan tekstur lembut dengan bagian pinggir sedikit crispy—kombinasi yang sempurna saat disantap hangat. Tak sedikit pembeli yang sengaja datang menjelang sore hanya untuk menikmati pukis dalam kondisi baru matang.
Sensasi menggigit pukis hangat dengan topping melimpah seperti cokelat dan keju benar-benar memanjakan lidah. Wangi khasnya bahkan sudah tercium dari kejauhan, membuat siapa pun sulit untuk tidak mampir.
Meski dibanderol dengan harga premium, banyak pelanggan menilai rasanya sepadan. “Worth it banget,” menjadi komentar yang kerap terdengar dari para pembeli. Namun, karena rasanya yang begitu menggoda, sebagian orang justru menyarankan untuk tidak terlalu sering membeli—cukup sesekali sebagai “treat” spesial.
Lapak ini mulai buka sekitar pukul 15.30 WIB. Namun, jangan berharap bisa datang santai di malam hari, karena biasanya pukis sudah habis sebelum pukul 20.30 WIB. Bahkan, pada hari-hari ramai, stok bisa ludes lebih cepat akibat antrean panjang yang tak pernah putus.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kualitas rasa masih menjadi faktor utama dalam dunia kuliner. Meski harga lebih tinggi dari pukis pada umumnya, pelanggan tetap rela antre demi mendapatkan cita rasa yang sulit ditandingi.
Bagi wisatawan yang sedang berkunjung ke Yogyakarta, Pukis Ko Yung bisa menjadi salah satu daftar jajanan yang wajib dicoba. Selain rasanya yang khas, pengalaman mengantre dan menikmati pukis hangat langsung dari cetakan juga menjadi bagian dari daya tarik tersendiri. Jadi, kalau ke Jogja, berani coba pukis “mahal tapi nagih” ini?