Pasar Beringharjo dan Ngasem Jadi Primadona Wisata Lebaran
- Dok Pemkot Yogya
Fenomena ini juga dipengaruhi oleh panjangnya masa libur Lebaran tahun ini. Jadwal masuk sekolah yang lebih mundur membuat wisatawan memiliki waktu lebih fleksibel untuk berlibur, sehingga tidak terjadi penumpukan pada satu hari tertentu. Wisatawan yang datang pun tidak hanya dari Yogyakarta, tetapi juga dari luar kota seperti Surabaya, Jakarta, bahkan luar Pulau Jawa.
Salah satu pengunjung, Tiwi (56), mengaku senang meski harus berdesak-desakan saat berbelanja di Beringharjo. “Wajar kalau banyak pengunjung berbelanja batik di sini. Selain murah, kualitasnya juga bagus. Walaupun berdesak-desakan, yang penting sabar,” ungkapnya.
Pedagang pun merasakan dampak positif. Omzet penjualan batik, kain tradisional, dan kuliner khas meningkat tajam. Beberapa pedagang bahkan melaporkan kenaikan hingga dua kali lipat dibandingkan hari biasa. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar tradisional masih menjadi tulang punggung ekonomi lokal sekaligus daya tarik wisata yang tidak tergantikan.
Pihak Dinas Perdagangan berharap tren positif ini terus berlanjut hingga akhir masa libur. “Kami berharap sampai akhir pekan ini wisatawan tetap ramai. Yogyakarta ini kan dikenal dengan ‘everyday is holiday’, jadi setiap hari selalu ada aktivitas wisata,” imbuh Ambar.
Dengan tingginya kunjungan, pasar tradisional Yogyakarta semakin meneguhkan posisinya sebagai destinasi wisata budaya dan belanja. Beringharjo dan Ngasem bukan hanya pusat perdagangan, tetapi juga ruang interaksi sosial dan budaya yang memperkaya pengalaman wisatawan.