Pemanasan Global dan Ancaman Kekeringan di Indonesia

Angin kencang akibat cuaca ekstrem
Sumber :
  • DOK UGM

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Pemanasan global semakin nyata terasa dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, laju peningkatan suhu Bumi berlangsung hampir dua kali lebih cepat dibandingkan dekade 1970-an. Kini, suhu rata-rata dunia telah naik sekitar 0,35 derajat Celsius. Sekilas angka ini tampak kecil, namun dampaknya sangat besar terhadap iklim dan lingkungan. Cuaca ekstrem semakin sering terjadi, dan Indonesia termasuk salah satu negara yang merasakan langsung konsekuensinya.

img_title Ikan Zebra Jadi Primadona Riset Biomedis Modern di UGM

Pakar klimatologi dari Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, Dr Emilya Nurjani, menjelaskan bahwa kenaikan suhu Bumi berimplikasi pada mencairnya es di Kutub Utara. Proses ini menyebabkan volume air laut meningkat dan mengancam wilayah dataran rendah. Tidak hanya itu, suhu yang lebih tinggi juga mempercepat penguapan, sehingga potensi hujan meningkat. Kondisi ini memicu terbentuknya siklon tropis yang berpotensi menimbulkan banjir, angin kencang, hingga kerusakan infrastruktur. Menurut Emilya, siklon yang lebih sering terjadi akan membawa dampak berantai, mulai dari banjir hingga kerusakan akibat angin yang menghantam permukiman.

Selain ancaman banjir, pemanasan global juga mempercepat datangnya musim kemarau. Kemarau yang lebih panjang dan kering berdampak langsung pada sektor pertanian. Petani kesulitan menanam padi, terutama pada masa tanam ketiga, karena ketersediaan air semakin terbatas. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap ketahanan pangan nasional. Emilya menegaskan bahwa kekeringan yang berkepanjangan dapat mengganggu produksi pangan dan memengaruhi harga kebutuhan pokok.

img_title Kekeringan DIY Kian Parah, Perubahan Iklim Jadi Pemicu Krisis Air Bersih

Faktor utama dari kenaikan suhu Bumi adalah aktivitas manusia. Pembakaran bahan bakar fosil menghasilkan gas rumah kaca yang menahan panas di atmosfer. Radiasi matahari yang seharusnya dipantulkan kembali ke luar angkasa justru terperangkap, sehingga suhu permukaan Bumi terus meningkat. Efek rumah kaca ini memperkuat proses evaporasi dan transpirasi. Akibatnya, awan terbentuk lebih banyak, hujan turun lebih deras, dan pola iklim menjadi semakin tidak menentu. Indonesia juga terdampak oleh dinamika monsoon Australia. Pada musim kemarau, uap air dari selatan terbawa ke utara, tetapi hanya melintas karena tekanan tinggi berada di Asia. Hal ini membuat pembentukan awan di Indonesia berkurang, sehingga musim kemarau terasa lebih panjang dan kering.

Halaman Selanjutnya
img_title