Pengelolaan Emosi Jadi Kunci Perawatan Diabetes Melitus

Martaria Rizky Rinaldi
Sumber :
  • DOK UGM

VIVA Jogja - Diabetes Melitus (DM) kini menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar di Indonesia. Data terbaru menunjukkan bahwa Indonesia masuk dalam jajaran 10 negara dengan jumlah kasus diabetes tertinggi di dunia. Kondisi ini tidak hanya menyerang kelompok usia lanjut, tetapi juga semakin banyak ditemukan pada generasi muda. Fakta tersebut menegaskan bahwa penanganan diabetes tidak bisa hanya berfokus pada aspek medis, melainkan juga harus menyentuh dimensi psikologis pasien.

img_title Tanda Kosmetikmu Aman, Kecantikan Tanpa Risiko

Hal itu disampaikan oleh Martaria Rizky Rinaldi, Psikolog, mahasiswa program doktoral Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), dalam ujian terbuka promosi doktor Fakultas Psikologi UGM. Dalam disertasinya berjudul Hypnodiacare untuk Individu dengan Diabetes Mellitus Tipe 2: dari Pemetaan Bukti dan Pengembangan Intervensi Hingga Uji Terkontrol Acak dan Evaluasi Psikofisiologis, ia menekankan bahwa penderita DM tipe 2 membutuhkan pengelolaan diri yang ketat, termasuk regulasi emosi dan manajemen psikologis.

Menurutnya, banyak pasien diabetes menghadapi tekanan emosional yang berat. “Individu dengan DM sering mengalami emosi negatif, stres, kecemasan, hingga kelelahan emosional. Sayangnya, jumlah tenaga psikolog yang tersedia masih sangat terbatas,” ujarnya. Selama ini, penanganan diabetes lebih banyak menekankan pada edukasi manajemen diri, seperti pengetahuan tentang diet, konsumsi obat, dan aktivitas fisik. Meski bermanfaat secara kognitif, pendekatan tersebut belum menyentuh aspek emosional secara mendalam.

img_title Kurang Tidur Tidak Bisa Terbayar Seketika: Kenali Dampaknya pada Kesehatan

Dalam penelitian yang ia lakukan, Martaria memperkenalkan konsep Hypnodiacare, sebuah metode intervensi yang mengintegrasikan edukasi manajemen diri dengan Clinical Hypnosis. Hipnosis klinis sendiri merupakan terapi berbasis relaksasi dan sugesti yang bertujuan membantu pasien mengatasi masalah emosi, stres, dan motivasi. Dengan menggabungkan kedua pendekatan tersebut, pasien tidak hanya dibekali pengetahuan tentang cara merawat diri, tetapi juga mendapatkan dukungan psikologis untuk menjaga kestabilan emosi.

Hasil penelitian menunjukkan dampak positif yang signifikan. Pasien yang mengikuti program Hypnodiacare dilaporkan merasa lebih tenang, memiliki emosi yang lebih stabil, serta motivasi yang meningkat untuk menjalani pengobatan dan gaya hidup sehat. Dari sisi fisiologis, penelitian ini juga menemukan adanya perubahan nyata pada gelombang otak—alpha, beta, dan theta—yang menandakan relaksasi mendalam, serta perbaikan regulasi jantung. Temuan tersebut memperkuat bukti bahwa intervensi psikologis dapat memberikan manfaat langsung pada kondisi fisik penderita diabetes.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Serunya Liburan di Sindu Kusuma Edupark, Theme Park Ikonik Jogja dengan Sentuhan Budaya Jawa