Literasi Matematika di Indonesia Terus Merosot
- Istimewa
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Data internasional menunjukkan literasi matematika di kalangan pelajar Indonesia mengkhawatirkan. Skor matematika, literasi, dan sains dalam survei Programme for International Student Assessment (PISA) yang dilakukan OECD terus menurun sejak 2015. Kondisi ini diperkuat oleh penelitian University of Eastern Finland yang dipublikasikan di British Journal of Educational Psychology pada akhir 2023, yang menemukan bahwa minat anak terhadap matematika cenderung menurun dalam tiga tahun pertama masa sekolah dasar.
Fenomena tersebut juga dirasakan di tingkat perguruan tinggi. Prof. Dr.rer.nat. Indah Emilia Wijayanti, dosen Aljabar FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM), menilai mahasiswa baru saat ini memiliki kemampuan berpikir matematis yang lebih rendah dibandingkan generasi lima hingga sepuluh tahun lalu. “Setiap penerimaan mahasiswa baru, terlihat jelas penurunan skill matematis. Ini berkaitan erat dengan fondasi pembelajaran sejak sekolah dasar dan menengah,” ujarnya, Senin (30/3).
Menurut Indah, faktor teknologi yang mempermudah pengerjaan soal serta distraksi dalam proses belajar turut memperburuk kondisi. Ia menekankan peran guru untuk menghadirkan pengalaman belajar matematika yang variatif agar siswa tetap fokus. “Satu-satunya cara menguasai matematika adalah berlatih. Bahkan soal sederhana bisa menstimulasi otak dan melatih logika,” jelasnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa membangun budaya sains tidak bisa hanya dibebankan kepada pendidik atau keluarga. Regulasi pendidikan dan kurikulum juga berperan besar. Indah menilai kurikulum seharusnya lebih fleksibel agar mahasiswa dapat mengeksplorasi bidang lain yang diminati, sehingga kemampuan berpikir komprehensif mereka meningkat. “Universitas perlu diberi ruang untuk menyesuaikan muatan pembelajaran. Dengan begitu, mahasiswa bisa mengembangkan kapasitas otak untuk memahami konsep yang lebih kompleks,” tambahnya.
Indah menutup dengan menekankan pentingnya kreativitas pengajar dalam mengemas materi. “Biasanya saya mulai dengan motivasi, lalu masuk ke teori, dan akhirnya mengajak mereka menerapkan. Tantangannya adalah bagaimana membuat matematika terasa menarik,” katanya.