Farmakoekonomi Jadi Pilar Efisiensi Biaya Obat di Program JKN
- Dok UGM
SLEMAN, VIVA Jogja - Beban ekonomi pelayanan kesehatan dunia terus meningkat, bahkan mencapai 10 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) global. Di Indonesia, tekanan biaya kesehatan semakin terasa akibat kenaikan kasus penyakit katastropik dan inflasi medis. Data tahun 2024 mencatat, penyakit katastropik menyumbang beban biaya sebesar Rp37 triliun atau sekitar 31 persen dari total anggaran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Sementara itu, inflasi medis diperkirakan menembus angka lebih dari 13 persen, jauh melampaui inflasi umum, sehingga menambah beratnya tantangan pembiayaan kesehatan nasional.
Dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Prof Dr apt Dwi Endarti, menekankan pentingnya pendekatan farmakoekonomi dalam pengambilan keputusan berbasis bukti. Menurutnya, penilaian teknologi kesehatan atau Health Technology Assessment (HTA) menjadi instrumen penting untuk memastikan pembiayaan kesehatan tetap efisien, sekaligus menjamin akses masyarakat terhadap obat dan vaksin berkualitas. “Farmakoekonomi membandingkan intervensi kesehatan dari aspek biaya dan luaran pengobatan, sehingga tidak hanya menilai efektivitas klinis semata,” jelasnya, Kamis (3/4).
Studi farmakoekonomi, lanjut Dwi, banyak menggunakan metode Cost Utility Analysis (CUA) dengan satuan Quality Adjusted Life Year (QALY). QALY menggabungkan kuantitas berupa harapan hidup dengan kualitas kesehatan yang diukur dalam utilitas. Dengan satuan universal ini, perbandingan antar berbagai terapi dan penyakit dapat dilakukan secara lebih objektif. “Penggunaan QALY memungkinkan kita menilai terapi kanker, penyakit degeneratif, hingga intervensi kesehatan lain secara seimbang,” terangnya.
Metode farmakoekonomi dapat dilakukan melalui uji klinis observasional maupun modeling. Meski data dunia nyata (real world data) baru tersedia setelah obat mendapat izin edar, modeling memberikan gambaran lebih cepat terhadap efektivitas biaya suatu terapi. Dwi mencontohkan penggunaan Decision Tree untuk pengambilan keputusan jangka pendek, serta Model Markov untuk menggambarkan perjalanan penyakit atau proses terapi dalam rentang waktu panjang. “Tren teknologi kesehatan saat ini berusaha menyelesaikan masalah jangka panjang yang membutuhkan biaya besar, seperti kanker dan penyakit degeneratif. Di sinilah modeling menjadi relevan,” ujarnya.
Ia menegaskan, mahalnya obat inovatif menjadi salah satu faktor utama meningkatnya biaya pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan kendali mutu dan kendali biaya dalam penetapan paket manfaat JKN. Farmakoekonomi modeling, menurutnya, dapat menjadi solusi untuk menilai cost-effectiveness obat inovatif sebelum dimasukkan ke dalam program. “Prinsipnya adalah best value for money. Kita harus memastikan setiap intervensi yang masuk ke JKN benar-benar memberikan manfaat maksimal dengan biaya yang efisien,” tegasnya.