Lonjakan Pengguna OpenClaw, Pakar UGM Ingatkan Pentingnya Waspada Kebocoran Data
- Istimewa
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Tren penggunaan aplikasi kecerdasan buatan berbasis open source OpenClaw terus meningkat sejak dirilis pada November 2025. Memasuki awal tahun 2026, aplikasi personal berbasis agentic AI ini mencatat lebih dari dua juta kunjungan dalam sepekan. Popularitas yang melonjak cepat tersebut sekaligus menimbulkan kekhawatiran terkait potensi kebocoran data dan serangan siber.
OpenClaw, yang dikembangkan dengan konsep agentic AI, mampu menyusun strategi perencanaan, mengambil keputusan kompleks, hingga menyelesaikan tugas secara mandiri. Sistem ini bekerja dengan memanfaatkan data internal pengguna serta data eksternal dari internet. Namun sifatnya yang open source membuat proses pemrograman dapat diakses publik secara terbuka. Hal ini, menurut sejumlah pakar, membuka celah keamanan yang berisiko bagi individu maupun perusahaan.
Guru Besar Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Ir. Ridi Ferdiana, menegaskan bahwa keterbukaan sistem OpenClaw menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, banyak pengembang dapat mempelajari dan mengembangkan sistem serupa. Namun di sisi lain, pengguna awam kerap tidak memahami konfigurasi sistem dan cenderung mengabaikan imbauan pembaruan perangkat. “Perizinan pada perangkat sering kali dilewati begitu saja. Dari sinilah risiko kebocoran data muncul, terutama pada aplikasi berbasis agentic AI dengan sumber terbuka,” jelasnya, Minggu (5/4).
Ridi menambahkan, masyarakat perlu menyadari bahwa layanan serupa OpenClaw sebenarnya sudah tersedia melalui penyedia pihak ketiga berbasis cloud yang lebih terjamin keamanannya. Ia menyarankan agar pengguna menilai kebutuhan secara realistis sebelum memutuskan menggunakan aplikasi ini. “Sebagian besar layanan sudah ada di platform lain yang lebih aman. Jadi penting untuk memahami sejauh mana kebutuhan terhadap OpenClaw,” ujarnya.
Selain itu, ia menekankan tiga langkah utama untuk meminimalisir ancaman kebocoran data. Pertama, memastikan sistem keamanan perangkat dan server telah terlindungi dengan baik. Kedua, membaca dan memahami setiap perizinan serta konfigurasi aplikasi baru sebelum digunakan. Ketiga, melakukan pemantauan kebocoran data secara berkala, minimal dua bulan sekali. Menurutnya, hal ini penting karena otomasi OpenClaw memiliki kecenderungan menciptakan skenario di luar kendali pengguna.