Sinergi Pemprov DIY dan Densus 88 Perkuat ASN Hadapi Radikalisme
- Istimewa
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Densus 88 Antiteror Polri menggelar sosialisasi bertema “ASN Berintegritas, Garda Terdepan Melawan Radikalisme dan Intoleransi, Wujudkan Pemerintah Kuat dan Rakyat Sejahtera” di Gedung Radyo Suyoso, kompleks BAPPERIDA DIY, Selasa (7/4). Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan ideologi aparatur sipil negara (ASN) sekaligus mencegah penyebaran paham radikalisme dan intoleransi di lingkungan birokrasi.
Kasubdit Kontra Radikal Direktorat Pencegahan Densus 88 AT Polri, Joko Dwi Harsono, menegaskan bahwa perkembangan radikalisme kini semakin dinamis. Tidak hanya menyebar melalui cara konvensional, tetapi juga masif di ruang digital. “Radikalisme saat ini tidak hanya berkembang secara konvensional, tetapi juga masif di ruang digital. Oleh karena itu, langkah pencegahan harus dilakukan sejak dini, terutama di lingkungan ASN sebagai ujung tombak pelayanan publik,” ujarnya.
Sementara itu, Rida Hesti Ratnasari menekankan pentingnya integritas ASN sebagai benteng utama dalam menjaga nilai kebangsaan. Menurutnya, tata kelola pemerintahan yang baik akan menjadi filter efektif untuk mencegah masuknya ideologi intoleran. “ASN harus memiliki integritas kuat dan berpegang pada nilai kebangsaan. Tata kelola pemerintahan yang baik akan menjadi filter efektif dalam mencegah masuknya ideologi intoleran,” jelasnya.
Acara ini diikuti oleh ASN dari berbagai instansi di DIY dan menghadirkan sejumlah pejabat penting, di antaranya Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti, Kepala Badan Kesbangpol DIY Lilik Andi Aryanto, Kepala Istana Kepresidenan Yogyakarta Deni Mulyana, Ketua Pengadilan Tinggi Agama Yogyakarta Achmad Hanifah, Hakim Tinggi Sugiyanto, serta Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) DIY Dewo Isnu Broto Imam Santoso. Kehadiran para pejabat lintas lembaga ini menunjukkan komitmen bersama dalam membangun sinergi pencegahan radikalisme.
Selain pemaparan materi, kegiatan juga diisi dengan diskusi interaktif antara peserta dan narasumber. Diskusi ini memperdalam pemahaman ASN terkait strategi pencegahan radikalisme, sekaligus memberikan ruang untuk berbagi pengalaman dan tantangan yang dihadapi di lapangan. Dengan pendekatan partisipatif, diharapkan ASN tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengimplementasikan strategi pencegahan secara nyata dalam tugas sehari-hari.