Gayam, Simbol Teduh dan Konservasi Air di Borobudur
- Dok InJourney
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - InJourney Destination Management bersama PT Taman Wisata Borobudur, Studio Nawung, serta masyarakat Desa Karangrejo, Borobudur, melaksanakan kegiatan penanaman pohon Gayam di bantaran Sungai Sileng, Magelang, dalam rangka memperingati Hari Bumi 2026. Aksi yang dikemas dalam program InJourney Green ini menjadi wujud komitmen bersama untuk menjaga kelestarian lingkungan, memperkuat konservasi air, sekaligus mendorong praktik pariwisata berkelanjutan di kawasan Borobudur sebagai destinasi budaya dunia.
Sebanyak 100 bibit pohon Gayam ditanam secara serempak oleh Direktur Operasi PT Taman Wisata Borobudur Supriadi Jufri, founder Studio Nawung Atik, Kepala Desa Karangrejo Hely Rofikun, serta warga sekitar. Penanaman ini diharapkan mampu mendukung pemulihan daerah aliran sungai (DAS) Sileng dari ancaman erosi, meningkatkan daya resap tanah, serta menyimpan cadangan air yang bermanfaat bagi masyarakat pada musim kemarau.
Dalam sambutannya, Supriadi menegaskan bahwa pelestarian lingkungan merupakan bagian integral dari pengelolaan destinasi Candi Borobudur. Menurutnya, kawasan Borobudur tidak hanya harus dijaga nilai sejarah dan budayanya, tetapi juga keseimbangan alam yang menopang keberlanjutan kawasan tersebut. Melalui program InJourney Green, pihaknya berkomitmen menghadirkan pengembangan destinasi yang bertanggung jawab dan memberi dampak nyata bagi lingkungan. Penanaman Gayam di bantaran Sungai Sileng menjadi langkah konkret menjaga sumber daya air, mengurangi risiko erosi, sekaligus mewariskan lingkungan yang lebih baik bagi generasi mendatang.
Pohon Gayam memiliki makna filosofis yang mendalam dalam budaya Jawa, yakni sebagai simbol “ayom” (teduh) dan “ayem” (ketentraman). Selain memberikan kesejukan, Gayam juga memiliki karakteristik biologis yang istimewa dengan sistem perakaran yang menghujam dalam. Perakaran tersebut berfungsi sebagai spons alami yang mampu menyerap dan menyimpan air secara perlahan sehingga menjaga ketersediaan air tanah tetap stabil. Konservasi air, menurut Supriadi, merupakan isu penting yang harus mendapat perhatian bersama karena ketersediaan air adalah fondasi utama bagi kehidupan masyarakat sekaligus keberlangsungan sektor pariwisata.
Prosesi penanaman berlangsung dengan nuansa budaya yang kental. Aksi dimulai dengan iring-iringan penari menuju tepian Sungai Sileng, diikuti warga dan tamu undangan. Tari beksan pinuwunan ditampilkan sebagai simbol doa dan permohonan manusia atas anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Setelah itu, tembang Kidung Pangaksuma dilantunkan sebagai pujian dan permohonan ampunan, menegaskan bahwa pelestarian lingkungan tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga spiritual dan kultural.