UGM Tutup Penyelidikan, Titik Api Seyegan Dipastikan Akibat Residu Kebakaran
- Dok Humas UGM
SLEMAN, VIVA Jogja - Setelah hampir dua pekan melakukan serangkaian observasi dan pengambilan sampel, Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) akhirnya menutup penyelidikan terkait fenomena munculnya puluhan titik api di rumah Mutfiana, warga Seyegan, Sleman. Penelitian intensif yang melibatkan 18 peneliti lintas disiplin itu menghasilkan kesimpulan bahwa penyebab utama kemunculan api bukan berasal dari fenomena alam atau gas bawah tanah, melainkan residu kebakaran yang dipicu oleh gas hidrogen dari limbah pemotongan ayam.
Kesimpulan tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Gedung Engineering Research and Innovation Center (ERIC) UGM.
Ketua tim, Prof. Ir. Alva Edy Tontowi, bersama sejumlah pakar seperti Prof Dr Eng Ir Deendarlianto, Prof Ir Leni Sophia Heliani, Dr Sarju Winardi, dan Dr Saptono Budi Samodra, memaparkan hasil akhir penelitian. Alva menjelaskan bahwa sejak awal tim menduga adanya keterlibatan gas hidrogen yang berasosiasi dengan gas pyrophoric dari limbah ayam. Dugaan itu diperkuat dengan hasil pengukuran menggunakan portable-gas detector yang mendeteksi keberadaan gas hidrogen di titik-titik api.
Untuk memastikan temuan tersebut, tim melakukan analisis residu kebakaran pada permukaan dinding keramik, kayu, dan tripleks dengan teknologi cahaya inframerah (FITR). Hasilnya menunjukkan adanya kandungan PVC (Polivinil Klorida) yang tidak umum ditemukan di permukaan material tersebut. Ketika PVC terbakar, gas hidrogen klorida yang dihasilkan terbaca oleh detektor sebagai gas hidrogen. “Penemuan PVC ini menjadi kunci kesimpulan akhir. Api muncul karena residu kebakaran yang dipantik oleh gas hidrogen dari material tersebut,” jelas Alva.
Sejak observasi pertama pada 30 Mei 2026, tim telah melakukan berbagai metode analisis, mulai dari pemetaan bawah tanah dengan teknologi georadar dan geolistrik, pengukuran medan elektromagnetik, hingga pemantauan anomali termal menggunakan drone dan sensor inframerah. Namun, semua hasil menunjukkan kondisi normal. Tidak ditemukan indikasi adanya gas alam atau pemantik elektromagnetik yang bisa memicu api secara spontan. “Seiring berjalannya waktu, bukti kuat bahwa api muncul secara alami tidak ditemukan. Api yang muncul lebih tepat disebut sebagai residu kebakaran,” tambah Sarju.