Ancaman Virus Nipah: Fatalitas Tinggi, Indonesia Perlu Waspada

Ilustrasi Waspasa Nipah
Sumber :
  • bing image creatif

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Merebaknya kembali kasus virus Nipah di sejumlah negara Asia menimbulkan perhatian serius. Penyakit zoonosis ini dikenal memiliki tingkat fatalitas tinggi dan mampu menyerang sistem saraf pusat, menyebabkan komplikasi berat hingga kematian. Walaupun Indonesia belum mencatat kasus pada manusia, kesamaan faktor ekologis dengan negara terdampak membuat kewaspadaan tetap diperlukan.

img_title RI Rencanakan Pembangunan PLTN, UGM Siap Dukung dari Sisi SDM

Dosen Departemen Mikrobiologi FK-KMK UGM dr M Edwin Widyanto Daniwijaya sekaligus Dokter Spesialis Mikrobiologi RSA UGM, menjelaskan bahwa tingkat kematian akibat virus Nipah sangat bergantung pada kesiapan sistem kesehatan dan kecepatan penanganan klinis. Berdasarkan catatan epidemiologi, case fatality rate virus ini berkisar antara 40 hingga 75 persen. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan fatalitas COVID-19 yang rata-rata berada di bawah 5 persen, sehingga risiko kesehatan masyarakat tidak bisa dianggap remeh.

Virus Nipah memiliki kemampuan menyerang otak dan memicu ensefalitis atau peradangan jaringan otak. Gejala awal sering kali tidak khas, menyerupai infeksi virus lain seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, dan nyeri tenggorokan. Namun dalam hitungan hari, kondisi pasien dapat memburuk menjadi disorientasi, penurunan kesadaran, kejang, hingga gangguan pernapasan. Edwin menekankan bahwa perjalanan penyakit yang cepat membuat diagnosis dini menjadi tantangan besar.

img_title Mayoritas Pekerja Indonesia Masih Informal, Ekonom UGM Dorong Perlindungan Ketenagakerjaan

Di Asia Tenggara, virus Nipah diketahui memiliki reservoir alami pada kelelawar buah (Pteropus). Wabah pernah tercatat di Bangladesh, India, dan Malaysia, dengan angka kematian yang tinggi. Data WHO menunjukkan bahwa sejak pertama kali diidentifikasi pada 1998 di Malaysia, virus ini telah menyebabkan lebih dari 700 kasus dengan tingkat kematian rata-rata di atas 50 persen. Fakta ini memperkuat alasan mengapa Indonesia harus tetap waspada, mengingat kondisi ekologi yang serupa.

Edwin menegaskan bahwa jika ditemukan pasien dengan gejala yang mengarah ke Nipah, rumah sakit rujukan akan segera menerapkan protokol penanganan penyakit infeksi emerging. Langkah awal mencakup isolasi pasien, pelaporan cepat, pemeriksaan laboratorium molekuler, serta terapi suportif intensif. Tenaga kesehatan diwajibkan menggunakan alat pelindung diri lengkap untuk mencegah penularan.

img_title Trauma Kompleks pada Dewasa Muda: Saat Rumah Tak Lagi Menjadi Ruang Aman

Indonesia sendiri telah memiliki sistem surveilans penyakit menular baru serta jejaring rumah sakit rujukan di berbagai daerah. Pengalaman menghadapi pandemi COVID-19 dan flu burung menjadi modal penting dalam kesiapan sistem kesehatan nasional. Meski demikian, Edwin menekankan perlunya penguatan kapasitas ruang isolasi dan sumber daya manusia di daerah-daerah yang masih terbatas.

Halaman Selanjutnya
img_title