PMII DIY Didorong Jadi Katalisator Perubahan Sosial dan Ekonomi
- Istimewa
SLEMAN, VIVA Jogja – Sarasehan yang digelar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) DIY di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Sabtu (14/02/2026), menjadi ruang diskusi penting tentang peran generasi muda dalam menghadapi krisis sosial dan ekonomi. Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, hadir sebagai narasumber dan menekankan bahwa mahasiswa harus mengambil peran aktif dalam menumbuhkan perubahan sosial sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.
Dalam paparannya, Hasto menyoroti fenomena sandwich generation yang kini dialami banyak anak muda. Generasi ini, katanya, menanggung beban hidup diri sendiri sekaligus orang tua, sehingga rasio ketergantungan semakin berat. Kondisi tersebut membuat kesejahteraan sulit dicapai jika tidak ada langkah logis dan terstruktur dari generasi muda. Ia menegaskan, masa depan kesejahteraan bangsa bergantung pada kemampuan mahasiswa dalam merespons tantangan zaman. Sebagai bentuk dukungan, Pemkot Yogyakarta tahun ini meluncurkan program Warung Milik Rakyat (Wamira) yang diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi lokal dan menjaga stabilitas harga. “Ekonomi harus kembali ke tangan rakyat, bukan hanya dikuasai kapitalis besar,” ujarnya.
Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof Noorhaidi Hasan, yang turut menjadi narasumber, menambahkan bahwa Indonesia masih berada pada kategori negara berpenghasilan menengah dengan pendapatan per kapita sekitar 4.300 dolar AS. Menurutnya, beban pembangunan nasional masih sangat besar, mulai dari belanja pegawai hingga bantuan sosial. Karena itu, ia menekankan pentingnya peran aktivis muda dalam melahirkan gagasan segar untuk arah pembangunan nasional. “PMII harus terus melahirkan kader pemimpin yang mampu menjawab tantangan bangsa,” katanya.
Sementara itu, Ketua PMII DIY, Muh Faisal, menegaskan bahwa organisasi mahasiswa Islam ini tidak boleh berhenti hanya sebagai wadah kaderisasi struktural. PMII, menurutnya, harus menjadi ruang rekonstruksi kesadaran, tempat kader menemukan kembali jati diri sebagai manusia yang utuh dengan nilai-nilai dasar pergerakan dan Ahlussunnah wal Jama’ah. “Inilah warisan peradaban yang harus terus kita lanjutkan,” tandasnya.