JFC Batch 3 TBIG GWPP, Jurnalisme Berkualitas Jadi Pengawal Efektivitas Program CSR

Fransiskus Surdiasis, dosen Ilmu Komunikasi (tengah) saat memberikan materi pada pelatihan JFC Batch 3 TBIG GWPP
Sumber :
  • Viva Jogja

VIVA Jogja –Di balik setiap program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), terdapat cerita tentang perubahan yang dirasakan masyarakat.

img_title CSR Tak Cukup Sekadar Program, Tantangan Mewujudkan Dampak Nyata

Namun, cerita tersebut tidak akan sampai kepada publik secara utuh tanpa peran jurnalisme yang berkualitas.

Karena itu, wartawan dituntut tidak hanya melaporkan kegiatan perusahaan, tetapi juga memastikan manfaat program benar-benar dirasakan oleh masyarakat penerima.

img_title CSR Tak Sekadar Formalitas, TBIG Gandeng Jurnalis Lewat JFC 2026 untuk Edukasi Publik

Pesan tersebut disampaikan Fransiskus Surdiasis, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Indonesia Atmajaya Jakarta, dalam kegiatan Journalist Fellowship Class (JFC) Batch III yang didukung melalui program CSR PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), Senin (8/6/2026).

Pada pelatihan lewat zoom tersebut Frans menegaskan bahwa wartawan harus terus mengedepankan jurnalisme berkualitas sebagai fondasi dalam menjalankan profesinya.

img_title Program Inkubasi Usaha Mikro LAZISNU DIY 2026: Sinergi Zakat Produktif dan Pemberdayaan Ekonomi Umat

Menurutnya, etika jurnalistik tidak hanya menjadi pedoman kerja, tetapi juga instrumen untuk mendorong masyarakat berkembang ke arah yang lebih baik.

“Selalu mengedepankan jurnalisme berkualitas. Keharusan yang dibangun etik semestinya untuk masyarakat berkembang lebih baik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, isu CSR memiliki kedekatan yang sangat erat dengan kehidupan masyarakat.

Karena itu, media memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan informasi yang tidak hanya bersumber dari perusahaan, tetapi juga menggambarkan dampak nyata program tersebut di lapangan.

“CSR pada dasarnya berkaitan dengan masyarakat. Misi kita membawa isu CSR ke tengah masyarakat dengan jurnalisme berkualitas,” kata Frans.

Menurutnya, peliputan CSR tidak boleh berhenti pada seremoni atau publikasi kegiatan perusahaan.

Wartawan perlu melakukan verifikasi dan melihat langsung implementasi program yang dijalankan agar informasi yang disampaikan benar-benar mencerminkan kondisi di lapangan.

“Jangan hanya mendengar dari pihak perusahaan, tetapi juga cek ke lapangan manfaatnya pada penerima CSR,” tegasnya.

Pendekatan tersebut dinilai penting untuk memastikan program CSR yang dijalankan perusahaan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Dengan demikian, publik dapat menilai secara objektif apakah tanggung jawab sosial perusahaan telah berjalan sesuai harapan.

Frans menambahkan, apresiasi terhadap program CSR seharusnya dibangun berdasarkan kebutuhan masyarakat yang dilayani.

Ketika sebuah program mampu menjawab persoalan yang dihadapi warga, maka keberadaan perusahaan akan lebih mudah diterima dan memperoleh kepercayaan dari masyarakat.

Halaman Selanjutnya
img_title