Problem Literasi Kesehatan di Era Media Sosial
- istimewa
Testimoni pribadi, menurutnya, tidak bisa dijadikan bukti efektivitas universal. Konten yang hanya menonjolkan manfaat tanpa menyebutkan risiko harus diwaspadai. Informasi yang kredibel biasanya menyebutkan batasan, seperti siapa yang boleh menggunakan, siapa yang tidak, serta kapan harus segera mencari pertolongan medis. Regulasi sebenarnya sudah tersedia, baik dari BPOM maupun Kementerian Kesehatan, tetapi aturan saja tidak cukup. Kesadaran publik dan tanggung jawab pembuat konten tetap diperlukan karena media sosial bersifat terbuka dan siapa pun bisa berbicara, meski tidak semua memiliki kompetensi memberi nasihat kesehatan.
Dalam menghadapi persoalan ini, Zullies menilai tenaga kesehatan memiliki peran strategis. Alih-alih menjauh dari media sosial, dokter, apoteker, dan akademisi justru perlu hadir aktif untuk mengisi ruang informasi dengan edukasi yang benar, mudah dipahami, dan empatik. Kehadiran tenaga kesehatan di media sosial bukan untuk menggantikan konsultasi klinis, melainkan membantu masyarakat memahami batasan informasi digital dan kapan harus mencari pertolongan profesional. Peran mereka bukan sekadar membantah, tetapi juga memberikan penjelasan yang sederhana dan jelas. Dengan begitu, media sosial tidak harus dimusuhi, tetapi juga tidak bisa dijadikan satu-satunya rujukan kebenaran. Pada akhirnya, kehati-hatian dalam menyikapi informasi kesehatan bukan tanda ketakutan, melainkan wujud tanggung jawab, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.