Mudik Sehat, Pulang dengan Ceria

Persiapkan mudik dengan tubuh bugar
Sumber :
  • DOK UGM

VIVA Jogja - Mudik selalu menjadi ritual penuh makna bagi masyarakat Indonesia, terutama umat muslim yang merayakan Idul Fitri. Jalanan yang padat, deru kendaraan yang tak henti, serta perjalanan panjang menuju kampung halaman seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi ini. Di balik keramaian itu, ada harapan besar: bertemu keluarga, melepas rindu, dan merajut kembali kenangan masa kecil. Namun, perjalanan mudik bukan sekadar soal jarak dan waktu. Ia menuntut kesiapan fisik agar momen kebersamaan tidak terganggu oleh rasa lelah atau bahkan sakit.

img_title 12 Bus Arus Balik Mudik Gratis 2026 Diberangkatkan dari Terminal Giwangan Menuju Jabodetabek

Dosen fisiologi olahraga Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM, Dr dr Zaenal Muttaqien, menegaskan bahwa stamina tidak bisa dibangun secara mendadak. Menurutnya, tubuh idealnya dipersiapkan jauh sebelum hari keberangkatan. “Persiapan mudik itu bukan seminggu atau dua minggu sebelumnya. Idealnya, sekitar enam bulan sebelum mudik tubuh mulai dilatih untuk membangun stamina agar benar-benar siap,” ujarnya. Pesan ini seolah mengingatkan bahwa mudik adalah perjalanan panjang yang membutuhkan strategi, bukan sekadar spontanitas.

Zaenal menyoroti satu hal yang sering luput dari perhatian: duduk statis dalam waktu lama. Satu jam saja, kata dia, sudah cukup membuat sendi kaku, terutama di lutut dan punggung. Kondisi ini bisa memicu rasa tidak nyaman dan menurunkan konsentrasi. Karena itu, ia menyarankan agar pemudik meluangkan waktu sejenak untuk bergerak. “Gerakkan telapak kaki agar darah yang menggumpal di betis terpompa naik. Lalu, ambil napas panjang dan keluarkan perlahan,” jelasnya. Gerakan sederhana ini membantu menjaga aliran darah tetap lancar sehingga otak tetap mendapat suplai oksigen yang cukup.

img_title Hari ini Puncak Arus Mudik ke arah DIY

Selain peregangan, pola makan juga menjadi faktor penting. Di bulan Ramadhan, pemudik sering kali tergoda untuk makan berlebihan saat berbuka atau sahur. Padahal, kondisi perut yang terlalu kenyang justru bisa menimbulkan kantuk. Zaenal menjelaskan bahwa ketika perut penuh, tubuh membutuhkan banyak darah untuk mencerna makanan. Akibatnya, pasokan darah ke otak berkurang dan rasa kantuk pun muncul. “Jadi, makan dan minumlah secukupnya saja, jangan berlebihan,” tegasnya. Nasihat ini sederhana, tetapi bisa menyelamatkan perjalanan panjang dari risiko mengantuk di jalan.

Halaman Selanjutnya
img_title