Bedah Rumah, Kerja-sama Warga dan Pemerintah Kota

Warga Yogya pemerima Program bedah Rumah Tidak Layak Huni
Sumber :
  • Dok Humas Pemkot Yogya

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Program bedah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) kembali digulirkan Pemerintah Kota Yogyakarta sebagai wujud kepedulian terhadap warga yang masih tinggal di hunian kurang layak. Pada Minggu (09/08/2026), dua rumah di wilayah Kemantren Tegalrejo dan Gedongtengen menjadi sasaran perbaikan. Kehadiran Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo dalam kegiatan ini menambah semangat warga yang turut menyumbangkan tenaga dan dana demi terwujudnya hunian yang lebih manusiawi.

img_title Peternak di Kota Yogyakarta Terapkan Biosekuriti untuk Antisipasi Penyakit Hewan

Rumah pertama yang dibedah adalah milik Daliyah, seorang pensiunan guru TK berusia 83 tahun yang tinggal di Jalan Tompeyan, Tegalrejo. Kondisi rumahnya sudah sangat memprihatinkan, dengan atap bocor dan plafon yang roboh. Rumah kedua milik Sukarno Hadi Sumarno, 69 tahun, di Jalan Notoyudan, Gedongtengen, juga tidak kalah memerlukan perhatian. Lahan sempit, atap usang, serta ruang terbatas membuat rumah tersebut tidak nyaman untuk ditempati. Kedua rumah ini menjadi bukti nyata bahwa masih ada warga yang membutuhkan dukungan agar dapat hidup di tempat tinggal yang layak.

Dalam kunjungannya, Wali Kota Hasto Wardoyo menyampaikan rasa prihatin melihat kondisi rumah warga, terutama bagi mereka yang sudah lanjut usia namun tetap berusaha mandiri. Ia mencontohkan Daliyah yang meski sudah tua masih membuka warung kecil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Saya terenyuh melihat semangat beliau. Usia boleh tua, tetapi semangat bekerja patut dicontoh,” ujar Hasto. Ia menekankan bahwa keterbatasan lahan tidak boleh menjadi penghalang. Pemerintah berencana membangun rumah bertingkat agar ruang yang sempit bisa dimanfaatkan secara optimal. Bagian atas rumah dapat digunakan untuk tidur anak, sementara bagian bawah untuk aktivitas memasak dan kebutuhan sehari-hari.

img_title Rp 909 Juta Terkumpul di Malam Berbagi Jogja, Pemkot Fokus Bedah Rumah dan Pendidikan

Program bedah rumah ini tidak hanya mengandalkan pemerintah, tetapi juga melibatkan berbagai pihak. BPD DIY, Paguyuban Umat Kristiani, Satpol PP, dan Dinas Pariwisata turut berkontribusi. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa kepedulian sosial dapat diwujudkan dalam bentuk nyata. Hasto mengapresiasi peran masyarakat, LPMK, kepala kampung, serta relawan yang ikut bertanggung jawab. Menurutnya, kolaborasi ini mempercepat proses pembangunan sehingga rumah dapat segera ditempati. Ia juga mengajak pelaku usaha maupun masyarakat untuk berpartisipasi melalui program tanggung jawab sosial atau CSR. “CSR bukan hanya milik perusahaan besar, warga biasa pun bisa menunjukkan kepedulian sosial,” tegasnya.

Kegiatan bedah rumah ini menjadi bukti bahwa semangat gotong royong masih hidup di tengah masyarakat Yogyakarta. Warga tidak hanya menyumbang dana, tetapi juga tenaga. Mereka bergandeng tangan demi membantu sesama yang membutuhkan. Kehadiran pemerintah memperkuat keyakinan bahwa persoalan sosial dapat diselesaikan bersama. Hasto menekankan bahwa kepedulian warga adalah modal utama dalam membangun kota yang lebih manusiawi.

img_title Pemkab Kulonprogo dan Baznas Kucurkan Rp 440 Juta, 22 Keluarga Kini Miliki Rumah Layak Huni

Salah satu penerima manfaat, Sumini, menyampaikan rasa syukur atas bantuan yang diberikan. Ia mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kota Yogyakarta dan semua pihak yang terlibat. “Matur nuwun sanget. Kulo tiyang mboten gadhah, dibantu. Mugi-mugi amalipun dados amal ingkang sae,” ucapnya penuh haru. Ia berharap pembangunan rumah dapat berjalan lancar sehingga keluarganya segera menempati hunian yang lebih layak. Harapan sederhana itu menjadi gambaran betapa pentingnya program ini bagi warga kecil yang selama ini hidup dalam keterbatasan.

Bedah rumah di Tegalrejo dan Gedongtengen bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan rasa kebersamaan. Di balik dinding yang diperbaiki, tersimpan nilai solidaritas yang menguatkan ikatan antarwarga. Pemerintah hadir bukan sebagai pihak yang berdiri di atas, melainkan sebagai mitra yang bekerja bersama masyarakat. Dengan semangat gotong royong, rumah yang tadinya rapuh kini perlahan berubah menjadi tempat tinggal yang lebih aman dan nyaman.

Peristiwa ini menegaskan bahwa Yogyakarta bukan hanya kota budaya, tetapi juga kota yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Bedah rumah menjadi simbol kepedulian, bahwa setiap warga berhak atas hunian layak. Dengan dukungan pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak, program ini diharapkan terus berlanjut sehingga semakin banyak warga yang merasakan manfaatnya. Rumah yang dibangun bukan hanya tempat berteduh, tetapi juga cermin kebersamaan yang menjadi identitas Yogyakarta.Bedah rumah tidak layak huni Yogyakarta