Panen Harapan di Lahan Asin Mangunharjo
- VIVA Jogja/dok BRIN
Kerja sama ini tidak hanya sebatas riset pertanian. Pertamina menegaskan bahwa kolaborasi dengan BRIN mencakup tiga dimensi utama: inovasi pertanian tahan salinitas, pemberdayaan masyarakat, dan mitigasi perubahan iklim.
Gabah biosalin saat digiling menjadi beras
- VIVA Jogja/dok Pertamina Aviation
Program ini dikemas dalam konsep Inovasi Sistem Ketahanan Pangan Pesisir, yang menghubungkan seluruh rantai produksi — mulai dari hulu (pertanian dan perikanan) hingga ke hilir (pengolahan dan distribusi hasil).
Melalui pendekatan ini, proyek diharapkan mampu menjadi model ketahanan pangan yang adaptif terhadap dampak perubahan iklim, khususnya di wilayah pesisir Jawa Tengah. Langkah ini juga sejalan dengan visi besar Pertamina Group, yang terus berupaya memperkuat kemandirian pangan dan keberlanjutan energi di berbagai daerah.
“Kami ingin membangun sistem pangan yang tidak hanya produktif, tapi juga resilien menghadapi perubahan iklim,” ujar Taufiq.
Dalam kolaborasi ini, BRIN berperan di sisi riset dan pengembangan varietas padi biosalin, menciptakan inovasi yang dapat tumbuh di lahan dengan kadar garam tinggi akibat rob. Sementara Pertamina fokus pada pemberdayaan masyarakat, yakni membangun infrastruktur, memberikan pelatihan, serta mengembangkan sistem hilirisasi hasil pertanian.
Pertamina juga telah membangun tempat penggilingan padi berikut mesin giling modern, sebagai upaya mewujudkan lumbung srawung — pusat produksi dan pengolahan padi di wilayah pesisir Semarang. “Dalam waktu dekat, bantuan mesin tanam padi juga akan disalurkan untuk meningkatkan produktivitas petani,” papar Taufiq.
Bagi Pertamina, masyarakat bukan sekadar penerima bantuan, tetapi subjek utama pembangunan. Karena itu, kelompok tani di Mangunharjo terlibat aktif dalam setiap tahapan program, mulai dari pelatihan pengendalian hama, pendampingan teknis, hingga proses pemberdayaan ekonomi.
“Petani harus menjadi aktor utama, bukan sekadar objek. Mereka yang paling memahami kondisi lahan dan lingkungan mereka,” ujar Taufiq Kurniawan, menegaskan filosofi pemberdayaan yang dipegang perusahaan.
Lebih jauh, program biosalin ini juga menjadi wujud nyata implementasi prinsip ESG (Environmental, Social, Governance) di tubuh Pertamina Aviation. Dari sisi lingkungan (Environmental), padi biosalin menjadi solusi adaptif terhadap dampak perubahan iklim yang makin ekstrem di kawasan pesisir.