Panen Harapan di Lahan Asin Mangunharjo

Panen Biosalin di Lahan Salinitas Mangunharjo
Sumber :
  • VIVA Jogja/dok BRIN

“Kami ingin petani menjadi bagian dari riset, bukan sekadar penerima hasil,” tegas Vina.

img_title Inovasi Pertanian Negara Diuji di Jepara, Produksi Padi Tembus 9 Ton per Hektare

Dalam setiap tahapan, BRIN memberikan pendampingan teknis, pelatihan budidaya, hingga hibah sarana produksi seperti pupuk, benih, dan alat mekanisasi. Pendekatan ini terbukti efektif meningkatkan keterampilan dan rasa kepemilikan petani terhadap inovasi yang mereka tanam. Beberapa petani bahkan kini bertransformasi menjadi penangkar benih biosalin, menjaga keberlanjutan varietas tersebut agar tidak berhenti di proyek penelitian.

Panen perdana padi biosalin di Kecamatan Tugu, Semarang, membawa kabar menggembirakan. Dari lahan marjinal yang sebelumnya sulit ditanami, petani berhasil memanen 6,75 ton gabah kering per hektare dalam waktu kurang dari tiga bulan. Di lokasi lain, hasilnya bahkan bisa mencapai 7 ton per hektare, dua kali lipat dibanding padi biasa di tanah dengan kadar garam tinggi yang rata-rata hanya 3,5 ton.

img_title Kota Yogyakarta Raih Apresiasi BRIN, Indeks Daya Saing Daerah Tembus Peringkat Nasional

“Yang menggembirakan, rasa nasinya tetap enak dan disukai masyarakat,” ujar Tri Martini, sambil tersenyum.

Dengan hasil itu, kepercayaan petani terhadap varietas biosalin semakin menguat. Inovasi ini tak berjalan sendiri. BRIN menggandeng Pertamina Aviation Patra Niaga sebagai mitra strategis dalam memperkuat dukungan finansial dan pemberdayaan masyarakat pesisir.

img_title BRIN Identifikasi 51 Spesies Baru, KOBI Integrasikan 16 Ribu Data Biodiversitas

“BRIN membawa riset, teknologi, dan standar budidaya, sementara mitra seperti Pertamina memberikan sokongan finansial untuk memperluas dampaknya,” jelas Vina.

Kolaborasi semacam ini diharapkan menjadi model kemitraan riset dan dunia usaha untuk menciptakan inovasi yang berkelanjutan dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

Upaya panjang BRIN akhirnya mendapat pengakuan resmi. Varietas Biosalin 1 dan Biosalin 2 telah dilepas sebagai varietas unggul nasional berdasarkan SK Menteri Pertanian Nomor 894 dan 895 Tahun 2020. Artinya, varietas ini kini bisa dikembangkan secara luas di berbagai daerah yang menghadapi permasalahan salinitas.

Dengan pengakuan tersebut, Indonesia menjadi salah satu negara di Asia Tenggara yang memiliki padi tahan salin hasil inovasi sendiri, bukan impor teknologi.

Perubahan iklim global diperkirakan akan meningkatkan risiko gagal panen hingga 15 persen akibat intrusi air laut. Di Indonesia, sekitar 45,7 persen produksi padi nasional berasal dari lahan marginal, yang sangat rentan terhadap perubahan iklim.

Halaman Selanjutnya
img_title