Panen Harapan di Lahan Asin Mangunharjo
- VIVA Jogja/dok BRIN
Hamparan lahan salinitas di pesisir Kota Semarang
- VIVA Jogja/dok BRIN
Dari aspek sosial (Social), peningkatan produktivitas pertanian berimplikasi langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sementara dalam tata kelola (Governance), program ini selaras dengan visi pemerintah dalam mencapai kedaulatan pangan nasional.
Ke depan, Pertamina berencana mengintegrasikan area pertanian biosalin ini dengan program Desa Energi Berdikari dan Pertamina Hijau. Lahan pertanian biosalin akan dikembangkan sebagai objek eduwisata energi dan pangan pesisir, dilengkapi dengan panel surya untuk mendukung pompa air pertanian yang ramah lingkungan.
Meski demikian, untuk aspek teknis dan data riset mendalam, Pertamina menyerahkan sepenuhnya kepada BRIN sebagai pemegang inovasi padi biosalin. Hal ini juga termasuk uji produktivitas, kualitas beras, serta potensi pengembangannya di wilayah pesisir lain seperti Demak, Pekalongan, dan Rembang.
Pertamina menilai kontribusi BRIN sebagai mitra riset sangat signifikan dalam menjawab permasalahan banjir rob di kawasan pesisir. Namun, keberlanjutan program justru terletak pada tahapan hilirisasi — memastikan hasil panen biosalin benar-benar sampai ke tangan konsumen, memberi nilai tambah bagi petani, dan memperkuat rantai pasok pangan lokal.
Untuk saat ini, proyek di Mangunharjo masih berstatus pilot project, namun Pertamina membuka peluang untuk memperluasnya menjadi model ketahanan pangan pesisir nasional.
“Program ini bukan sekadar eksperimen pertanian, tapi bentuk nyata kolaborasi antara riset, energi, dan masyarakat. Kami ingin menanam harapan baru di tengah ancaman rob, agar pesisir tetap bisa menumbuhkan kehidupan,” tegas Taufiq, dengan optimistis.
Menanam benih padi Biosalin 1 dan 2 di Mangunharjo
- VIVA Jogja/dok Pertamina Aviation
Dr. Vina Eka Aristya, peneliti BRIN menjawab VIVA Jogja mengatakan, pertumbuhan penduduk terus meningkat, sementara lahan subur makin sempit dan banyak yang terkena intrusi air laut.
“Kita perlu varietas yang bisa bertahan di kondisi ekstrem,” ujar Vina.
Bersama koleganya, Dr. Tri Martini Patria, keduanya berupaya menjawab tantangan besar yang kini dihadapi pertanian pesisir Indonesia, yakni menjaga ketahanan pangan di tengah perubahan iklim.
Data BRIN menunjukkan, sekitar 1,6 juta hektare sawah di Indonesia berisiko terdampak salinitas akibat kenaikan permukaan laut hingga satu meter. Kota Semarang menjadi contoh nyata dari fenomena itu. Lebih dari 2.000 hektare sawah di wilayah ini kini terancam menjadi lahan tidur, dengan 10–60 persen di antaranya sudah tak produktif karena genangan air asin.