Panen Harapan di Lahan Asin Mangunharjo
- VIVA Jogja/dok BRIN
“Daerah pesisir utara Jawa seperti Kota Semarang mewakili kondisi paling kritis, dengan kadar salinitas tinggi, banjir rob yang sering datang, dan masyarakat tani yang masih bergantung penuh pada pertanian,” jelas Tri Martini.
Peneliti BRIN Dr Tri Martini Patria (kanan berhijab)
- VIVA Jogja/dok Pemprov Jateng
Kondisi inilah yang membuat Semarang dipilih sebagai lokasi riset dan uji tanam pertama varietas biosalin. Berbeda dari varietas padi biasa, Vina menjelaskan, padi biosalin bukan hasil rekayasa genetik transgenik, melainkan hasil mutasi terarah melalui iradiasi sinar gamma terhadap varietas Ciherang dan Inpari 13. Proses ini menghasilkan dua varietas unggul baru: Biosalin 1 Agritan dan Biosalin 2 Agritan.
“Melalui teknik mutasi, kita menciptakan sifat baru yang memungkinkan tanaman tetap tumbuh walau terpapar air payau,” tutur Vina.
Kedua varietas ini dikategorikan tahan salinitas hingga 7 ppm, dengan skor toleransi cekaman pada fase bibit masing-masing 3,33 untuk Biosalin 1 dan 3,00 untuk Biosalin 2.
Lebih menarik lagi, keduanya tergolong padi genjah—dapat dipanen hanya dalam waktu 74–82 hari setelah semai. Selain ketahanan terhadap garam, produktivitas padi biosalin juga tergolong tinggi. Dalam kondisi optimal, Biosalin 1 mampu menghasilkan 8,75 ton gabah per hektare, sementara Biosalin 2 bahkan mencapai 9,06 ton per hektare—angka yang melebihi rata-rata varietas konvensional di lahan normal.
Beras Biosalin
- VIVA Jogja/dok BRIN
Riset awal di Kota Semarang dilakukan di lahan seluas 5.000 meter persegi sebagai proyek percontohan. Hasilnya, benih biosalin kini telah mampu dikembangkan untuk 200 hektare lahan produktif baru di sekitar pesisir Semarang. Kesuksesan itu menular ke daerah lain, yakni Jepara, Batang, Cilacap, dan Demak kini mulai melakukan replikasi ujitanam. Namun, keberhasilan di lapangan bukan tanpa tantangan.
“Iklim pesisir tidak stabil. Dalam satu musim tanam, petani bisa mengalami banjir dan kekeringan sekaligus,” kata Dr. Tri.
Tantangan lain datang dari sisi sosial-ekonomi. Banyak petani pesisir belum terbiasa dengan teknologi baru atau budidaya di lahan salin. Karena itu, riset ini tidak hanya soal benih, tapi juga pemberdayaan masyarakat. BRIN tidak datang ke lapangan sebagai lembaga yang memberi perintah, tetapi sebagai mitra yang belajar bersama. Para petani dilibatkan secara aktif sejak tahap uji tanam, pemeliharaan, hingga panen.