Kulonprogo Perkuat Tanggul Kritis, Warga dan Pemerintah Bergerak Bersama
- jogja.viva.co.id/ Wuri D
KULONPROGO, VIVA Jogja - Ancaman banjir akibat curah hujan ekstrem di wilayah Kulonprogo mendorong pemerintah daerah bersama warga untuk mengambil langkah cepat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Pemerintah Kalurahan Karangwuni dan masyarakat Padukuhan Kriyan bergotong royong memperkuat tanggul kritis Sungai Serang dengan membuat tanggul darurat dari karung berisi pasir dan tanah uruk, mulai Minggu (21/12/2025).
Bupati Kulonprogo, R Agung Setyawan, menegaskan bahwa mitigasi lebih efektif dibandingkan evakuasi saat bencana sudah terjadi. Ia menyebut longsor tanggul yang terjadi di beberapa titik dipicu oleh curah hujan tinggi yang membuat debit air meluap hingga mendekati pemukiman warga. Gotong royong warga menjadi kunci penanganan darurat, dengan lebih dari 70 orang terlibat dalam satu titik pengerjaan.
Kerusakan tanggul di Karangwuni tercatat mencapai tiga titik dengan total panjang sekitar 300 meter. Selain itu, anak Sungai Serang seperti Sungai Papah juga mengalami longsor yang membahayakan area perumahan. Data BPBD Kulonprogo menunjukkan sepanjang 2025 terjadi 47 kejadian banjir dan longsor di kabupaten ini, dengan 12 di antaranya berada di sekitar Sungai Serang. Sementara itu, laporan BMKG mencatat curah hujan di Kulonprogo pada Desember 2025 mencapai rata-rata 420 milimeter, jauh di atas ambang normal bulanan 250 milimeter. Kondisi ini memperbesar risiko jebolnya tanggul yang sudah rapuh.
Diketahui, kerusakan tanggul sebenarnya sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu. Upaya darurat kali ini merupakan yang ketiga kalinya dilakukan. Ia mengingat kembali pengalaman warga yang harus berjibaku pada dini hari saat bulan puasa tahun lalu untuk memperkuat tanggul dengan karung seadanya.
Agung Setyawan menambahkan bahwa koordinasi dengan BBWS Serayu Opak sudah dilakukan untuk memastikan penanganan jangka panjang. Menurutnya, langkah darurat yang dilakukan warga dan pemerintah daerah menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga keselamatan, tetapi penanganan permanen tetap menjadi kebutuhan mendesak agar masyarakat di sepanjang aliran sungai merasa aman dan terlindungi.