Pakar UGM ingatkan Kasus ISPA Pascabencana
- Dok Humas UGM
SLEMAN, VIVA Jogja - Banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik berupa rumah hancur dan infrastruktur rusak, tetapi juga memunculkan ancaman kesehatan serius. Laporan Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 21 ribu kasus penyakit pascabencana di Aceh, dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mendominasi hingga 9.731 kasus per Jumat (19/12/2025).
Dokter spesialis paru RSUP Dr. Sardjito sekaligus dosen FK-KMK Universitas Gadjah Mada, dr Ika Trisnawati, /2025menegaskan bahwa penyakit menular kerap menjadi masalah utama setelah bencana. Kondisi lingkungan yang kotor dan sanitasi yang buruk, menurutnya, menjadi lahan subur bagi kuman untuk berkembang. “Pascabencana, problem kesehatan terbesar adalah penyakit menular. Lingkungan yang tidak bersih membuat risiko semakin tinggi,” ujarnya.
Ika menjelaskan, pengendalian penyakit di daerah terdampak jauh lebih sulit dibandingkan wilayah normal. Keterbatasan air bersih, sanitasi, dan hunian layak membuat ISPA muncul sebagai penyakit dominan. Ia menekankan bahwa anak-anak, khususnya balita, serta lansia merupakan kelompok paling rentan. Sistem imun mereka belum matang atau sudah menurun sehingga lebih mudah terinfeksi.
Selain faktor usia, penderita penyakit kronis seperti diabetes, jantung, ginjal, dan kanker juga memiliki risiko tinggi. Kelompok perokok pun disebut lebih rentan karena kondisi paru-paru yang tidak optimal. “Ketika terinfeksi ISPA, paru-paru perokok lebih mudah mengalami perburukan,” jelasnya.
Dalam kondisi darurat, Ika menekankan pentingnya langkah proteksi diri. Evakuasi ke tempat yang lebih aman dan bersih menjadi prioritas, terutama bagi kelompok rentan. Ia juga mengingatkan penggunaan masker, alas kaki tertutup, serta perhatian terhadap luka terbuka agar tidak terkontaminasi air atau lumpur.
Gejala ISPA, lanjutnya, biasanya muncul setelah banjir surut. Lumpur dan partikel kering yang terbawa angin memudahkan virus maupun bakteri masuk ke saluran pernapasan. Ia menegaskan bahwa tidak semua kasus membutuhkan antibiotik. “ISPA umumnya disebabkan virus dan iritasi. Antibiotik hanya diberikan bila ada komplikasi bakteri, dan itu harus dengan resep dokter,” tegasnya.
Ika menilai peran pemerintah dan relawan sangat krusial untuk mencegah meluasnya wabah. Penyediaan pengungsian layak, air bersih, makanan bergizi, alat pelindung diri, serta pos kesehatan darurat menjadi langkah yang harus segera dilakukan. Deteksi dini dan penanganan cepat disebut sebagai kunci agar penyakit tidak berkembang menjadi wabah besar.