Produktivitas Kakao Indonesia Merosot
- Dok Humas UGM
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Produktivitas kakao nasional terus mengalami penurunan dalam satu dekade terakhir. Meski Indonesia masih memiliki areal perkebunan kakao yang luas, sebagian besar kebun menghadapi masalah tanaman tua, minim peremajaan, serta serangan hama dan penyakit. Data Direktorat Jenderal Perkebunan menunjukkan bahwa sejak 2015 produksi kakao Indonesia cenderung menurun, dengan produktivitas rata-rata hanya 500–700 kilogram per hektare per tahun. Angka ini jauh tertinggal dibanding Ghana yang mampu mencapai 800–1.000 kilogram per hektare.
Peneliti Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Nur Akbar Arofatullah menilai, persoalan kakao nasional lebih kompleks daripada sekadar luas lahan. “Produktivitas kakao kita rata-rata hanya sekitar 700 kilogram per hektare per tahun. Kendala terbesar di lapangan adalah tekanan hama dan penyakit, terutama penggerek buah kakao (PBK) dan vascular streak dieback (VSD),” ujarnya, Jumat (02/01/2026).
PBK merusak buah secara langsung, sementara VSD menyebabkan kematian bertahap pada batang dan daun. Dua masalah ini disebut sangat signifikan menekan hasil panen. Berbagai pendekatan pengendalian, termasuk penggunaan fungisida dan insektisida hayati, kini tengah diuji untuk menekan kerusakan tanaman secara berkelanjutan.
Namun, Akbar menegaskan bahwa pengendalian hama tidak akan efektif tanpa bibit unggul. Menurutnya, penggunaan bibit asalan yang tidak terstandar masih menjadi akar persoalan produktivitas rendah. “Bibit unggul itu pondasi. Kalau sejak awal bahan tanamnya lemah, maka sebaik apapun pemupukan dan pengendalian hama, hasilnya tetap tidak maksimal,” jelasnya.
Bibit unggul dinilai mampu meningkatkan keseragaman tanaman, mempercepat umur berbuah, serta menjaga stabilitas hasil dalam jangka panjang. Varietas yang toleran terhadap PBK dan VSD juga dapat menekan risiko kegagalan panen sekaligus mengurangi ketergantungan petani pada pestisida kimia. Selain itu, kualitas pascapanen sangat dipengaruhi oleh varietas, mulai dari ukuran biji, kandungan lemak, hingga cita rasa setelah fermentasi.
Akbar menambahkan bahwa persoalan produktivitas tidak hanya terjadi di perkebunan rakyat, tetapi juga di perkebunan besar yang belum melakukan peremajaan optimal. Akibatnya, Indonesia tertinggal dari produsen utama seperti Ghana dan Pantai Gading yang mampu menjaga mutu dan konsistensi pasokan dalam skala besar. “Industri pengolahan internasional lebih memilih bahan baku dari Afrika karena kualitasnya lebih stabil dan harganya lebih kompetitif,” katanya.