Guru Besar UGM Ingatkan Deteksi Dini Kusta, 15 Ribu Kasus Baru Muncul Tiap Tahun
- Istimewa
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Penyakit kusta yang kerap dianggap kuno ternyata masih menjadi masalah serius di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan RI tahun 2023 mencatat hampir 15.000 kasus baru ditemukan setiap tahun. Dengan prevalensi 0,63 kasus per 10.000 populasi, Indonesia menempati peringkat ketiga dunia setelah India dan Brasil sebagai negara dengan beban kasus kusta tertinggi.
Guru Besar Departemen Dermatologi dan Venereologi FK-KMK UGM, Prof Dr dr Hardyanto Soebono, Sp.KK(K)., menegaskan bahwa kusta adalah penyakit menular yang disebabkan bakteri Mycobacterium leprae. “Setiap bulan saya masih menerima pasien baru. Artinya penularan terus terjadi di masyarakat,” ujarnya saat ditemui di Kampus UGM, Senin (12/01/2026).
Hardyanto menjelaskan, kusta merupakan penyakit kronis menahun yang bila tidak segera diobati dapat menyebabkan cacat permanen. Angka prevalensi masih tinggi di beberapa daerah seperti Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua. Sementara itu, DI Yogyakarta memiliki angka prevalensi paling rendah, meski kasus baru tetap ditemukan.
Ia menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan di daerah dengan indeks tinggi. Deteksi dini harus digalakkan agar penderita segera mendapat pengobatan. Hardyanto juga mengingatkan bahwa persediaan obat harus tersedia merata di seluruh daerah. “Stigma sosial justru menjadi penghambat utama. Banyak penderita terlambat berobat karena takut dikucilkan,” tegasnya.
Menurut Hardyanto, kusta sebenarnya seratus persen bisa disembuhkan selama belum menimbulkan cacat permanen. Gejala utama yang perlu diperhatikan adalah kulit mati rasa. Ia mencontohkan cara sederhana untuk mendeteksi dini: menggunakan kapas yang dipilin lalu ditempelkan pada bercak kulit. “Jika bagian bercak tidak terasa, ada kemungkinan terindikasi kusta,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan masyarakat tidak perlu takut karena kusta termasuk penyakit menular yang paling lemah. Kesadaran untuk segera berkonsultasi jika ada kelainan kulit menjadi kunci pencegahan. Hardyanto juga mendorong pemerintah agar kembali memberlakukan wakil supervisor (wasor) untuk pemeriksaan pasien. “Perhatian serius dari pemerintah mutlak diperlukan agar pemberantasan kusta berjalan efektif,” pungkasnya.
Menurut laporan WHO tahun 2024, Indonesia masih menyumbang sekitar 8 persen kasus kusta global. Meski tren penurunan terjadi di beberapa provinsi, angka kasus baru tetap stabil di atas 14 ribu per tahun. Sementara itu, Jawa Timur tercatat sebagai provinsi dengan kasus tertinggi, menyumbang hampir 20 persen dari total nasional.